PELUANG PENGEMBANGAN BUDIDAYA CABE JAWA

Written by Tri.Ksn Hits: 315

Cabai Jawa ( Piper retrofractum Vahl ) adalah jenis rempah yang masih berkerabat dengan lada dan kemukus, termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae . Cabai Jawa juga dikenal dengan nama lain: cabai puyang atau cabai jamu.  Kegunaan cabai Jawa sebetulnya sama dengan cabai pada umumnya, yaitu memberikan rasa pedas pada masakan. Sedikit berbeda dengan cabai yang lain, cabai Jawa harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum dinikmati atau digunakan sebagai bumbu masak. Cabai Jawa kering yang dihaluskan dan dimasukkan ke dalam masakan akan memberikan rasa pedas dan rasa hangat pada tubuh.  Cabai jawa memiliki beberapa nama daerah, yaitu: di Sumatera disebut lada panjang, cabai jawa, cabai panjang. Di jawa, namanya cabean, cabe alas, cabe areuy, cabe jawa, cabe sula. Di Madura dinamai cabhi jhamo, cabhi ongghu, cabhi solah, sedangkan di Makassar dikenal dengan nama cabai.

Negara –negara pengimpor cabai jamu antara lain Singapura, Malaysia, Cina, Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, peluang pengembangan cabai jamu, baik melalui intensifikasi (meningkatkan produktivitas tanaman yang sudah ada) maupun penanaman baru, masih sangat terbuka lebar. Budidaya cabai jawa di Indonesia memiliki potensi produksi 2,5 ton/ha/tahun dengan kondisi lahan di Indonesia yang subur, ditambah lagi dengan iklim tumbuh yang cocok, karena cabe jawa asli tanaman Indonesia.

Sebagai rempah asli Indonesia, tanaman cabai Jawa cukup mudah dibudidayakan. Tanaman cabai Jawa dapat tumbuh di lahan dengan ketinggian 0 – 600 MDPL, dengan curah hujan rata-rata 1,259 - 2,500 mm pertahun. Tanaman cabai Jawa cocok ditanam di tanah dengan karakter lempung berpasir, dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik. Namun, tanaman cabai Jawa juga memiliki keunggulan tersendiri, yaitu dapat tumbuh di tanah kering berbatu.

Pembibitan atau perbanyakan tanaman cabai Jawa dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (stek atau merunduk). Di antara dua cara tersebut, sebagian besar petani lebih memilih pembibitan dengan cara vegetatif, karena lebih praktis dan tanaman lebih cepat berbuah jika dibandingkan dengan menggunakan biji. Perbanyakan cabai Jawa dengan stek atau merunduk yang paling mudah menggunakan bahan yang berasal dari sulur tanah.

Perbanyakan Tanaman Cabai Jawa dengan Cara Merunduk

Perbanyakan Tanaman Cabai Jawa dengan Cara Setek

Penanaman Bibit Cabai Jawa

Perawatan Tanaman Cabai Jawa

Perawatan tanaman cabai Jawa antaralain penyiraman pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Pemupukan dilakukan dua kali dengan menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang. Pastikan tanaman cabai Jawa merambat pada tiang rambat yang sudah disediakan, dan mengikat menggunakan tali plastik. Budidaya cabai Jawa lebih baik dilakukan dengan cara organik, jika tanaman terserang hama atau penyakit, maka kita kendalikan dengan menggunakan pestisida nabati.

Panen Cabai Jawa

Tanaman cabai Jawa akan mulai belajar berbuah pada umur sekitar kurang lebih satu tahun. Tanaman akan terus berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim dan terus berbuah sampai tanaman mencapai 35 tahun. Pemanenan cabai Jawa cukup dengan cara memetik biasa untuk buah yang telah matang. Ciri cabai Jawa yang telah ditandai dengan warna buah hijau kekuningan hingga kemerah-merahan. 

 

Sumber : Balittro Bogor dan berbagai media

Disusun oleh : Edwin Herdiansyah, Nasriati, Dede Rohayana dan Tri Kusnanto