BUDIDAYA TANAMAN SECARA VERTIKULTUR

Parent Category: Info Teknologi Written by Tri.Ksn Hits: 174

BUDIDAYA TANAMAN SECARA VERTIKULTUR

Oleh

Betty Mailina

Vertikultur, berasal dari Bahasa Inggris vertical dan culture yang artinya adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem bertanam secara vertikultur tujuannya adalah untuk memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal. Sistem budidaya pertanian secara vertikal ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman, dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman.

Struktur vertical memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan. Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur dapat disesuaikan sesuai kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak.

Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Budidaya secara vertikultur sering dilakukan untuk tanaman sayuran antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya. Untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh yaitu dengan budidaya tanaman secara vertikultur yaitu:

  1. Menciptakan menciptakan suasana alami yang menyenangkan.
  2. Menjadikan solusi penataan taman dalam kondisi keterbatasan lahan.
  3. Sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.
  4. Tirai alami yang menghasilkan suasana sejuk dan dapat dijadikan suatu partisi/screen untuk view yang tidak diinginkan.

Sumber: Puslitbanghorti & Wijayanto (2011).