Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
negara
bankpadi
katam
pustaka111
upbs
phsl
Varietas

Kalender Kegiatan

Berita
Pengendalian Hama Tikus di Lahan Sawah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Gohan O.M.   
Rabu, 02 Juli 2014 11:30

Tikus Sawah merupakan hama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi di Indonesia terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif.  Hama ini termasuk hama yang relatif sulit dikendalikan. Perkembangbiakan dan mobilitas tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman padi yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian perlu dilakukan secara terpadu (PHT). Strategi PHT dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Disamping itu kegiatan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengenalian dini), untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadium generatif padi; dan pelaksanaan pengenalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan).

Cara  pengendalian hama tikus sebagai berikut :

  • TBS (Trap Barrier System)

Cara Pemasangan TBS

  • Pilih petakan sawah berukuran kira-kira 20 – 50 m2
  • Pasang ajir bambu setiap 1 m bentangan pagar
  • Gunakan tali atau kawat untuk menegakkan pagar plastik pada petakan. Pagar perlu dibenamkan 10 cm di bawah tanah agar tikus tidak menerobos melalui bagian bawah pagar dan dipasang setinggi 60 cm untuk mencegah loncatan di atas tanah
  • Buatlah saluran air di bagian luar pagar dengan lebar minimal setengah meter
  • Pasang paling sedikit 1-2 bubu perangkap pada masing-masing sisi (harus dipasang serapat mungkin dengan pagar, tanpa celah yang memungkinkan tikus masuk menerobos di luar pintu perangkap).
  • § Pasang jalan masuk dengan meletakkan lumpur di depan pintu masuk perangkap

Gambar  Bubu Perangkap Dipasang Rapat Dengan Pagar Plastik

Catatan :

  1. Perangkap dirapatkan dengan pagar menggunakan ajir bambu
  2. Perangkap dipasang di atas pematang atau permukaan air dan ditutup dengan jerami
  3. Gundukan lumpur diletakkan di depan pintu masuk perangkap sebagai jalan masuk tetapi  tidak menghambat aliran air
  4. Bersihkan pagar dan saluran air dari rumput
  • Gropyokan

Pengendalian dengan peralatan lengkap (pemukul,  emposan, jaring dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas.

  • Pengumpanan

Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah  atau beras kemudian diletakkan pada lalulintas tikus.

  • Penggenangan

Penggenangan lobang-lobang tikus dilakukan pada  saat menjelang pembuatan persemaian.

  • · Sanitasi Habitat

Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dll. Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang.

  • Pengendalian Hayati

Pengendalian menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing dan burung hantu.

  • Tanam dan Panen Serempak.

Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu. Hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus

  • Fumigasi/Pengemposan

Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.

 

Waktu Pengendalian

  • Masa Pra Tanam :

Dilakukan kegiatan : sanitasi, gropyokan masal, penggenangan, perbaikan pematang dan penanaman tanaman perangkap yang dipasangi TBS.

  • Saat Pesemaian
    Masih dilakukan pemasangan TBS, dilakukan pengemposan belerang, penggenangan dan pengawasan.
  • Masa pertanaman padi
    Dilakukan beberapa teknik pengendalian secara terpadu antara lain : TBS, pengemposan belerang,  pemasangan jaring, pengumpanan racun tikus dan gropyokan.

Daerah Rekomendasi

Pengendalian hama tikus secara terpadu direkomendasikan pada daerah yang banyak memiliki semak-semak dan rawa-rawa di sekitar persawahan, karena di daerah tersebut sering terjadi migrasi tikus dari tempat habitatnya dengan jumlah besar, sehingga tidak dapat dikendalikan secara konvensional.

 

Kegiatan Pengendalian Hama tikus yang telah dilakukan BPTP Lampung di Lampung Tengah

Serangan hama tikus mulai terlihat disekitar areal hamparan sawah pada musim tanam Gadu ini di Seputih Raman Kab. Lampung Utara sehingga perlu dilakukan berbagai pengendalian hama tikus.  Beberapa pengendalian yang dilakukan yaitu grobyokan tikus dan TBS (Trap Barrier System).

Groboyakan tikus dilakukan di Seputih Raman bersama tim BPTP Lampung yang diikuti berbagai kelompok tani dihamparan tersebut.  Alat yang digunakan untuk melakukan grobyokan yaitu kompor khusus pembakar berbahan bakar gas, sedangkan bahan yang dipakai yaitu sekam padi dan belerang.

Sebanyak 40 orang petani melakukan grobyokan, satu tim penggrobyokan terdiri dari 4 orang sehingga bias bergerak melakukan pengendalian tikus disekitar hamparan tikus. Petani mencari lubang tikus kemudian memberikan sekam dan belerang lalu dibakar sehingga asap memasuki lubang tikus. Banyak tikus yang keluar lubang lalu mati dan ada yang tidak keluar dari lubang.  Tikus yang tidak keluar lubang diperiksa dengan menggali lubang tikus didapat banyak tikus telah mati dilubang tersebut.

 

Pembakaran sekam dan belerang ke lubang tikus

 

Pengendalian hama tikus

LAST_UPDATED2
 
Pelatihan Teknologi KRPL Tanggamus PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Gohan O.M.   
Senin, 30 Juni 2014 08:39

krpl tanggamusPelatihan teknologi  sebagai salah satu bentuk pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung.  Peserta merupakan penyuluh pendamping  yang menangani KRPL  P2KP dan  pengurus kelompok wanita tani (KWT) peserta KRPL dan KRPL P2KP .

Pelatihan dilaksanakan di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus yang diikuti 50 Peserta.  Acara dibuka oleh Ir.  Nasriati, MP dari BPTP dan  Dian SP, MM dari KKP Kab. Tangamus

Pembenihan tanaman  sayuran disampaikan oleh Gohan Octora Manurung, SP  dan Dedeng SP ( Bp4K Kab. Tanggamus ), Teknologi pengemasan, desain dan pelabelan kemasan produk pangan, Teknologi Pengolahan dan Pengawetan  Cabai, Teknologi  pengolahan Kripik Pisang aneka rasa oleh Dra. Alvi Yani, M.Si

 

Materi Pelatihan dilakukan dengan teori dan praktek.  Peserta mengikuti dengan antusias pelatihan ini.  Setelah materi selesai dilakukan tinjauan langsung ke Kebun Bibit Desa MKRPL dan Pekarangan kooperator.

LAST_UPDATED2
 
Kunjungan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke BPTP Lampung PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Gohan O.M.   
Selasa, 17 Juni 2014 10:25

uin jakartaKunjungan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke BPTP Lampung. Kunjungan ini diterima oleh Kasubbag TU Drs. Dani Purwadi dan Seluruh Koordinator Kelji BPTP Lampung.

Kunjungan ini dilakukan oleh mahasiswa Prodi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.  Kunjungan dihadiri oleh 105 mahasiswa dan 5 dosen pembimbing yaitu Dr. Iskandar Andi Nuhung, Drs. Acep Muhip, MM, Dr. Ahmad Riyadi, Ir. Mudatsir Najamuddin, MM.

Dalam kunjungan ini BPTP Mengenalkan program-program  yang telah dilakukan.  Program yang dikenalkan BPTP adalah  Pendampingan SLPTT Padi dan Jagung, M-KRPL, UPBS, PSDSK.

Selain itu dikenalkan juga bahwa Badan Litbang juga sudah menghasilkan alat-alat pertanian seperti transplanter, harvester yang telah didiseminasikan ke petani. Mekanisasi jadi perhatian karena di Lampung sebagian besar petani kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja dari tanam sampai dengan panen.

Diharapkan dengan kunjungan ini akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang program-program  BPTP Lampung dalam membangun pertanian di Provinsi Lampung.

LAST_UPDATED2
 
Pengendalian Penyakit Blas PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Gohan O.M.   
Rabu, 04 Juni 2014 09:12
  • · Penyakit blas (Pyricularia grisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada pertanaman padi gogo dan sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah.
  • · Penyakit blas akhir-akhir ini juga dilaporkan menginfeksi varietas-varietas unggul baru menjelang panen dan berpotensi secara nyata  menurunkan hasil padi dalam skala nasional.
  • · Penyakit ini menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman yaitu daun, buku, kelopak daun, leher malai dan gabah.
  • · Kehilangan hasil akibat penyakit ini mencapai  70%, bahkan gagal panen.

PERKEMBANGAN PENYAKIT BLAS

  • · Inang utama penyakit blas adalah padi, sedangkan inang alternatifnya adalah rerumputan dan jagung untuk mempertahankan hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama setahun pada jerami sisa-sisa panen.
  • · Pada temperatur 24°C - 28°C an kelembaban 90 % adalah kondisi optimum untuk berkembangnya penyakit  blas.
  • · Pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.
  • · Penanaman dengan jarak tanam yang rapat serta pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa menggunakan kalium menciptakan iklim yang kondusif untuk berkembangnya penyakit blas pada leher malai
  • · Banyak embun pada saat awal berbunga, baik malam, pagi, dan siang hari sangat berpotensi berkembangnya blas leher.

GEJALA PENYAKIT BLAS

  • · Gejala penyakit blas dapat timbul pada daun, batang, malai dan gabah, tetapi umumnya adalah pada daun dan leher malai.
  • · Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan.
  • · Gejala pada leher malai adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.
  • · Serangan pada daun yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan anakan produktif yang menyebabkan malai kecil dengan sedikit gabah bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman mati sebelum berbunga.
  • · Serangan pada leher malai dapat menurunkan hasil sampai 70 % karena leher malai busuk dan patah sehingga pengisian terganggu dan bulir padi menjadi hampa.

STRATEGI PENGENDALIAN

  • Memahami tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas memberi petunjuk untuk melakukan langkah-langkah yang tepat cara pengendaliannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A. TEKNIK BUDIDAYA

Penanaman Benih Sehat

  • · Pengendalian penyakit blas lebih efektif apabila dilakukan sedini mugkin. Mengingat penyakit blas dapat tertular melalui benih, maka benih yang terinfeksi tidak dianjurkan untuk ditanam.
  • · Untuk mencegah penularan melalui benih, sebelum benih disemai perlu dilakukan pengobatan dengan fungisida sistemik seperti fungisidaTrycyclazole dengan dosis 3 – 5 gr/kg benih, dilakukan dengan cara perendaman atau pelapisan benih.
  • · Dengan cara perendaman, benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan diaduk merata setiap 6 jam sekali. Perbandingan benih dengan air 1 : 2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida. Kemudian benih dianginkan dalam suhu kamar diatas kertas koran dan dibiarkan sampai benih tersebut siap disemai.
  • · Selain dengan perendaman, cara yang lebih efektif dapat dilakukan dengan cara pelapisa,  yaitu pertama-tama benih dibasahi dengan cara direndam dalam air beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis 3 – 5 gr/kg benih dikocok sampai merata, lalu dikeringanginkan, selanjutnya siap disemai.

Cara Tanam

  • · Jarak  tanam yang tidak terlalu rapat atau dengan system tanam jejer legowo dan pengairan berselang dapat menekan perkembangan penyakit blas.
  • · Pertanaman yang terlalu rapat menciptakan suhu, kelembaban dan aerasi yang menguntungkan bagi perkembangan penyakit blas.
  • · Pertanaman yang rapat akan mempermudah terjadinya infeksi dan penularan melalui gesekan antar daun.

Pemupukan

  • · Pertanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit blas.
  • · Sebaliknya dengan pupuk kalium menjadikan tanaman lebih tahan terhadap penyakit blas.
  • · Penggunaan pupuk nitrogen, phospat dan kalium secara berimbang atau sesuai kebutuhan tanaman,  tanaman menjadi sehat, sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produktivitas yang tinggi.
  • · Oleh karenanya pemupukan N (Urea) dianjurkan dengan indikator bagan warna daun (BWD), P (SP-36) dan K (KCl) berdasarkan status hara tanah dengan menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS).

 

B. PENANAMAN VARIETAS TAHAN

  • · Penggunaan varietas tahan merupakan cara yang efektif, murah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit blas.
  • · Varietas padi yang tahan terhadap penyakit blas antara lain Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 7.
  • · Akan tetapi tidak dianjurkan menanam varietas tahan penyakit secara terus menerus sepanjang tahun, maka harus dilakukan bergiliran varietas, sehingga dapat memperlambat terjadinya ras blas yang baru yang dapat mematahkan ketahanan varietas padi.

C. PENGGUNAAN FUNGISIDA

  • · Perlakuan benih dengan fungisida sistemik mampu melindungi bibit dari serangan penyakit blas sampai pada umur 30 hari setelah tanam, selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan.
  • · Penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga.
  • · Beberapa fungisida yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit blas, disajikan dalam Tabel 1.

 

Tabel 1. Fungisida untuk mengendalikan penyakit blas.

Nama Bahan Aktif

Nama Dagang

Dosis/ha

Volume Semprot/ha

Isoprotiolane

Fujiwan 400 EC

1 liter

400-500 liter

Trisiklazol

Dennis 75 WP, BLAST 200 SC, Filia 525 SE

1 liter/kg

400-500 liter

Kasugamycin

Kasumiron 25 WP

1 kg

400-500 liter

Thiophanatemethyl

Topsin 70 WP

1 kg

400-500 liter

Difenocona

zol

Scor 250 EC

0,5 liter

400-500 liter

 

D. PENCEGAHAN

  • · Sanitasi Lingkungan.

Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternative dan sisa-sisa tanaman, maka dianjurkan untuk melaksanakan sanitasi lingkungan dan menjaga kebersihan sawah dari gulma yang menjadi inang dan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi.

  • · Penggunaan Jerami Sebagai Kompos.

Jamur P. grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi atau jerami dan benih/gabah dari pertanaman sebelumnya, sehingga sumber penyakit selalu tersedia dari musim ke musim. Penggunaan jerami sebagai kompos atau pembernaman jerami kedalam tanah dapat menyebabkan miselia dan spora mati karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.

LAST_UPDATED2
 
Pelatihan Pendampingan PTT Padi Lamsel PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Gohan O.M.   
Sabtu, 31 Mei 2014 13:39

Pelatihan Pendampingan PTT Padi  Kabupaten Lampung Selatan Pelatihan diikuti oleh 50 orang peserta terdiri penyuluh dan petani. Acara dibuka oleh Ka. BP4K Kabupaten Lampung Selatan dan Kabid Pengembanngan Kelembagaan BP4K Lamsel  Ibu Inayah.

Pelatihan SLPTT Padi ini diisi pemateri P Lampung adalah Dr. Ir. Yulia Pujiharti, M.Si dan Dra. Nina Mulyanti. Dr. Ir. Yulia Pujiharti, M.Si memberikan materi tentang Budidaya tanaman padi Spesifik Lokasi.

Dalam pelatihan dilakukan Praktek penggunaan PUTS dan praktek penggunaan.  Untuk mendapatkan pemupukan spesifik lokasi berikan juga penggunaan pupuk dengan katam dan PHSL.  Praktek PHSL  dilakukan secara one line sehingga peserta dapat mencobanya  secara langsung.

Pada pelatihan ini dilakukan juga pre test dan post test pada peserta. Pre test dilakukan sebelum pelatihan dimulai sedangkan pos test dilakukan sesudah pelatihan selesai dimulai.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com