JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

Mandiri Benih

Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi dengan Desa Mandiri Benih Kedelai

 

Pengertian Mandiri Benih Kedelai  :

Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi dengan Desa Mandiri Benih Kedelai merupakan salah satu langkah mewujudkan Desa Berdaulat Benih Kedelai. Alur produksi dan distribusi benihnya disesuaikan dengan Sistem Perbenihan Nasional sebagai upaya pembinaan calon petani penangkar untuk meningkatkan mutu dan ketersediaan benih dalam satu kawasan pengembangan pertanian.  Pengembangan model penyediaan benih kedelai merupakan salah satu langkah strategis untuk menjawab permasalahan ketersediaan benih bermutu dan mudah diakses oleh petani. Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi dengan Desa Mandiri Benih Kedelai perlu dikembangkan untuk membantu petani mendapat benih bermutu dengan varietas sesuai preferensi petani secara mandiri.

Sasaran :

Pengembangan model penyediaan benih kedelai merupakan salah satu langkah strategis untuk menjawab permasalahan ketersediaan benih bermutu dan mudah diakses oleh petani. Model penyediaan benih untuk pemenuhan kebutuhan wilayahnya melalui peningkatan kemampuan calon penangkar benih kedelai perlu dikembangkan untuk membantu petani mendapat benih bermutu dengan varietas sesuai preferensi petani dan model ini merupakan salah satu alternatif untuk membangun kawasan mandiri benih.

Pelaksanaan :

Pelaksanaan kegiatan pada tahun 2017  dilakukan pengembangan di satu lokasi yaitu di Kabupaten Pringsewu, Kecamatan Ambarawa, Desa Margodadi. Pelaksanaan kegiatan  meliputi: (1) Perencanaan kebutuhan benih di suatu wilayah; (2) Identifikasi calon penangkar/calon lokasi (CP/CL); (3) Penyediaan benih sumber. Benih sumber klas FS berasal dari Balitkabi; (4) Pendampingan dan bimbingan teknis produksi benih kedelai. Pendampingan meliputi: pengenalan varietas unggul kedelai,  pemupukan spesifik lokasi, pengendalian OPT, pengendalian gulma, panen, pasca panen dan penyimpanan benih kedelai; (5) Fasilitasi dan bimbingan dalam proses sertifikasi benih kedelai, dilakukan sebelum tanam sampai panen dan pasca panen.

Bimbingan teknologi :

          Dalam kegiatan bimbingan teknologi dilakukan pelatihan yang dihadiri sekitar 50 petani dan PPL setempat, Tim dari BPTP Balitbangtan Lampung sebanyak 10 orang dan pemateri dari Balitkabi (Dr. M. Muclish Adie,  Dr. A. A. Rahmianna, dan  Ir. Sri Wahyuni, MS). Materi pelatihan yang disampaikan yaitu:  1. Pengendalian Varietas dan Perbenihan kedelai, 2. Teknologi Budidaya untuk produksi benih kedelai, 3. Identifikasi hama dan cara pengendaliannya.

 

Hasil ubinan kedelai di  Lokasi LL (1 ha)

Varietas/No ubinan

Hasil ubinan 2m x 2m (kg)

Tanggal panen

Produktivitas (ton/ha

Jumlah tanaman terpanen

Gema

0,63

09/08.2017

1,26

118,7

Dering

0,93

13/08/2017

1,86

105

Devon

0,73

13/08/2017

1,46

82,7

Gepak Kuning

1,07

13/8/2017

2,13

93,7

 

 

 


 

Model Desa Mandiri Benih Kedelai di Lampung

Kebutuhan benih untuk pengembangan kedelai di Provinsi/Kabupaten diperoleh dari Dinas Pertanian atau BPS. Kebutuhan benih di suatu wilayah disestimasi dari luas areal tanam dikalikan kebutuhan benih. Kebutuhan benih kedelai secara umum adalah sebesar 40 kg/ha.

Berdasarkan hasil CP/CL ditentukan lokasi kegiatan dilaksanakan di dua lokasi, yaitu di Desa Margodadi, Kabupaten Pringsewu dan Desa Haduyang, Kabupaten Lampung Selatan. Penetapan Calon Kelompok Penangkar yaitu:

  1. Kelompok Tani Sri Makmur III, Desa Margodadi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu
  2. Kelompok Tani Tunas Maju, Desa Margodadi, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

Organisasi dan pengurus kelompok penangkar

  1. Lokasi Pringsewu

Di Kelompok Tani Sri Makmur III, telah dibentuk susunan organisasi dengan Ketua Bapak Supono dan Bendahara Bapak Sukatman

  1. Lokasi Lampung Selatan

Di Kelompok Tani Tunas Maju, Ketua Bapak Widodo.

Penyediaan Benih Sumber

Benih sumber klas BS (Benih Penjenis) label kuning dan BD (Benih Dasar) label putih yang terdiri atas 10 varietas (Sinabung, Tanggamus, Argomulyo, Anjasmoro, Burangrang, Grobogan, Wilis, Gema, Dering 1 dan  Panderman) disediakan oleh Balitkabi. Sepuluh varietas benih tersebut digunakan dalam Laboratorium Lapang seluas 1 ha. Lahan LL tersebut sebagai tempat petani belajar langsung cara produksi benih dan melihat penampilan varietasyang diperkenalkan. Benih klas BP yang dihasilkan dapat digunakan oleh calon penangkar untuk memproduksi benih sebar apabila dikehendaki. Benih BP (Benih Pokok) label ungu varietas Grobogan yang ditanam di luar lokasi LL berasal dari UPBS BPTP Lampung. Seluruh areal produksi benih ini didaftarkan dan diproses sertifikasi oleh BPSB.

Pendampingan dan Bimbingan Teknis Produksi Benih Kedelai

Keberhasilan produksi benih ditentukan oleh kesiapan benih sumber, ketepatan penerapan teknologi budidaya, ketepatan pemeliharaan mutu genetik, mutufisik, dan mutu fisiologis benih, serta distribusi benih. Di lapang, tidak ada perbedaan antara teknologi budidaya kedelai untuk keperluan produksi benih dengan tujuan untuk konsumsi. Perbedaannya adalah terletak pada proses penjagaan kebenaran mutugenetik dan mutu fisiologis dari benih yang dihasilkan. Benih yang diproduksi secara benar akan menjadi agen pembawa teknologi dan sekaligus akan bernilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan biji kedelai untuk konsumsi. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam produksi benih kedelai adalah:

  1. Produksi benih diusahakan pada lahan subur di sentral produksi
  2. Kedelai ditanam pada musim yang tepat, karena terlalu awal atau terlambat tanam dapat menyebabkan tanaman terserang OPT yang cukup berat
  3. Benih yang diproduksi diupayakan berasal dari varietas unggul yang jenisnya sesuai dengan permintaan masyarakat di wilayah pengembangan
  4. Penanaman tepat waktu dan serempak dapat mengurangi resiko kegagalan
  5. Pengendalian gulma dan OPT harus dilakukan secara benar dan tepat waktu
  6. Penanganan pasca panen diposisikan sama pentingnya dengan penanganan prapanen, karena mutu benih juga sangat ditentukan oleh penanganan pasca panen. Cepat menurunnya daya tumbuh benih kedelai ditentukan oleh proses pasca panennya.

Sosialisasi dan pendampingan yang telah dilakukan antara lain:

-       Sosialisasi kegiatan, sosialisasi dan pembinaan mengenai proses pengajuan dan tahapan sertifikasi benih ke BPSB serta proses pengajuan izin produksi.

-       Ikut sertanya dua orang calon petani penangkar (Pringsewu dan Lampung Selatan) pada acara Workshop Penangkaran Kedelai dengan didampingi oleh tim BPTP selama 4 hari pada tanggal 18 -21 Mei 2015 di Balitkabi Malang.

-       Pelatihan pengendalian hama dan penyakit kedelai yang lebih ramah lingkungan, antara lain dengan menggunakan pestisida nabati asap cair dari tempurung kelapa. Asap cair ini bernilai ekonomis, ramah lingkungan dan mudah diadopsi/diproduksi sendiri oleh petani.

-       BPTP telah mengirim satu contoh alat pembuatan asap cair yang telah dirakit dan memberikan pelatihan kepada petani cara pembuatan alat serta cara memproduksi asap cairnya. Alat tersebut telah digunakan oleh petani dan asap cair yang dihasilkan telah diaplikasikan pada lahan penangkaran kedelai di lokasi LL di Pringsewu.

-       Pembinaan kelembagaan kelompok tani penangkar benih kedelai, termasuk pembinaan proses izin produksi dan prospek pemasaran kedelai.

-       Acara Focus Group Discussion (FGD) telah dilaksanakan di BPTP Lampung dengan narasumber dari Balitkabi Malang. Acara ini dihadiri oleh penyuluh dan peneliti BPTP Lampung serta perwakilan dari beberapa instansi terkait yaitu Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Bakorluh, BPP, BPTPH, BPSB, Perguruan Tinggi/Politeknik Negeri Lampung, Unila dan Balitbangda. Acara ini dihadiri pula oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tanggamus.

 

Teknologi Budidaya Kedelai Spesifik Agroekologi

Lokasi penangkaran kedelai di kedua lokasi merupakan lahan sawah. Pada lahan sawah, kedelai umumnya ditanam pada musim kemarau pertama (MK I) setelah panen padi pertama atau pada musim kemarau kedua (MK II) setelah panen padi kedua. Kedelai MK I masa tanamnya antara Februari – Juni, kedelai MK II antara Juni – September. Paket teknologi produksi kedelai pada lahan sawah MK I dan MK II sebagai berikut:

  1. Setelah panen padi, jerami dipotong dekat permukaan tanah, tanah tidak perlu diolah, jerami dapat digunakan untuk pakan ternak, untuk mulsa kedelai, atau dibakar sebagai tambahan hara bagi tanaman.
  2. Saluran drainase dibuat dengan jarak antar saluran 1,5-5 m, bergantung pada kemiringan lahan dan tekstur tanah, jarak antar saluran drainase makin sempit dengan makin datar atau makin halusnya tekstur tanah. Saluran drainase berukuran lebar sekitar 30 cm dan dalam sekitar 25 cm.
  3. Kedelai ditanam 2-4 hari setelah padi dipanen, hal ini ditujukan untuk memanfaatkan lengas tanah dan mengurangi gangguan gulma, hama dan penyakit.
  4. Varietas yang digunakan disesuaikan dengan kondisi agroekologi dan preferensi pasar.
  5. Benih yang baik mempunyai daya tumbuh >85%, murni, sehat dan bersih. Kebutuhan benih kedelai per hektar berkisar antara 40-60 kg/ha, bergantung pada ukuran biji, makin besar ukuran biji makin banyak benih yang digunakan.
  6. Gangguan lalat bibit dapat ditekan dengan perlakuan benih menggunakan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau fipronil (10 ml Regent/kg benih).
  7. Perlakuan benih dengan pupuk hayati penambat benih (Rhizobium) hanya dilakukan pada lahan yang belum pernah ditanami atau sangat jarang ditanami kedelai dengan dosis 40 gram inokulan Rhizobium untuk 8 kg benih.
  8. Jenis dan takaran pupuk yang diberikan bergantung pada kondisi tingkat kesuburan tanah. Jika tersedia pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan menggunakannya dengan dosis sekitar 2 t/ha, diberikan secara dicicir sebagai penutup lubang tanam atau diisi lubang tanam.
  9. Irigasi diberikan jika kelembaban tanah tidak mencukupi terutama pada periode awal pertumbuhan, berbunga dan pengisian polong.
  10. Gulma dikendalikan secara intensif. Di daerah sulit tenaga kerja dapat digunakan herbisida pra tumbuh yang dikombinasikan dengan herbisida pasca tumbuh.
  11. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan berdasarkan petunjuk teknis PHT (pengendalian hama dan penyakit terpadu).
  12. Panen dilakukan apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman bergantung varietas yang ditanam.
  13. Pembijian kedelai dilakukan secara manual (sistem geblok) ataupun secara mekanis dengan menggunakan mesin perontok.

 

Fasilitasi dan Bimbingan dalam Proses Sertifikasi Benih Kedelai

Benih sebagai agen pembawa kehidupan dan bernilai ekonomi harus dijaga dan dipertahankan mutu genetik, mutu fisik dan mutu fisiologisnya. Penjagaan mutu benih dicapai melalui proses sertifikasi. Sertifikasi benih merupakan serangkaian pemeriksaan dan pengujian dalam rangka penerbitan sertifikat benih bina (Permentan Nomor 02/Permentan/SR.120/1/2014). Proses pemeriksaan dilakukan sebelum tanam, di pertanaman dan di laboratorium. Sedangkan benih bina merupakan benih dari varietas unggu yang telah dilepas, yang produksi dan peredarannya diawasi.

Mutu genetik merupakan mutu benih yang terkait dengan kebenaran varietas. Mutu fisik adalah mutu benih yang berkaitan dengan kondisi fisik benih khususnya keutuhan benih, keseragaman warna, ukuran biji dan kebersihan dari kotoran. Mutu fisiologis berhubungan dengan viabilitas dan daya kecambah benih.

Benih Bina diklasifikasikan menjadi Benih Penjenis (BS), Benih Dasar (BD), Benih Pokok (BP), dan Benih Sebar (BR). BS diproduksi oleh dan di bawah Pengawasan Pemulia Tanaman atau institusi pemulia. BD merupakan keturunan pertama dari BS yang memenuhi standar mutu kelas BD dan harus diproduksi sesuai dengan prosedur baku. Sertifikasi Benih Bina atau sistem standarisasi nasional. BP merupakan keturunan pertama dari BD atau BS yang memenuhi standar mutu kelas BP dan harus diproduksi sesuai dengan prosedur baku Sertifikasi Benih Bina atau sistem standarisasi nasional. BR merupakan keturunan pertama BP1, BP, BD atau BS yang memenuhi standar mutu kelas BR dan harus diproduksi sesuai dengan prosedur baku Sertifikasi Benih Bina atau sistem standarisasi nasional.

Benih kedelai dapat diperbanyak melalui Pola Perbanyakan Benih Ganda untuk kelas BP dan BR. Kelas BP1 diproduksi dari kelas BP. Kelas BR1 diproduksi dari kelas BR, dan kelas BR2 diproduksi dari kelas BR1. Benih bermutu, baik mutu fisik dan genetik memiliki kontribusi penting untuk produksi tanaman. Pemeliharaan mutu genetik untuk setiap kelas benih dilakukan sejak sebelum tanam (sumber benih dan lahan yang akan digunakan), di pertanaman dan selama prosesing. Campuran secara fisik khususnya selama prosesing merupakan masalah yang sering terjadi dan sulit untuk diatasi. Pemeliharaan mutu genetik di pertanaman dilakukan melalui kegiatan roguing (membuang tipe simpang. Pada tanaman BS, pemeliharaan mutu genetik dilakukan dari tanaman ke tanaman dan dari benih ke benih selama prosesing.

 

 

 

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google