JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

HULU KE HILIR DEMI DAYA SAING KOPI EKSPOR

HULU KE HILIR DEMI DAYA SAING KOPI EKSPOR

Oleh: Tiara Aprilia Putri Hernanda, M.Si.

 

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan peranan strategis dalam meningkatkan perekonomian nasional.   Peranan tersebut adalah sebagai penyedia bahan konsumsi nasional dan sebagai penyumbang pendapatan nasional melalui devisa negara, Selain itu sektor pertanian yang berada di negara berkembang seperti Indonesia merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam penyediaan kebutuhan pangan nasional. Peranan penting sektor pertanian Indonesia juga dapat dilihat dari neraca perdagangan dan neraca pembayaran, yaitu penerimaan surplus. Surplus tersebut diperoleh dari hasil-hasil pertanian yang di ekspor ke luar negeri atau pasar internasional, serta adanya subtitusi impor.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan berbagai komoditas ekspor andalan.  Sebagai, negara tropis, Indonesia memiliki potensi ekspor sumberdaya alam yang sangat beragam.  Salah satunya adalah kopi, komoditas yang sangat populer dan banyak dikonsumsi.  Kopi merupakan komoditas tropis utama yang diperdagangkan di seluruh dunia dengan kontribusi setengah dari total ekspor komoditas tropis.  Tanaman kopi (Coffea spp.) termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan genus Coffea.  Linnaeus merupakan orang pertama yang mendeskripsikan spesies kopi arabika (Coffea arabica) pada tahun 1753 (Panggabean, 2011).  Saat ini, terdapat lebih dari 120 spesies kopi telah diidentifikasi.  Namun, hanya satu spesies yaitu Coffea canephora atau kopi robusta yang dibudidayakan mendekati kuantitas kopi arabika di seluruh dunia (Hoffman,2014).  Mekuria et al (2004) menyatakan bahwa 66% produksi kopi dunia merupakan jenis kopi arabika dan sisanya kopi robusta.

Popularitas dan daya tarik kopi disebabkan oleh banyak hal, seperti cita rasa lalu faktor sejarah, tradisi, sosial dan kepentingan ekonomi (Ayelign and Sabally, 2013).  Selain itu, kopi adalah salah satu sumber kafein alami (Nawrot et al, 2003).  Kafein adalah zat yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kelelahan (Smith, 2002). Kopi sebagai minuman sudah mulai dikonsumsi sejak abad ke sembilan.  Pada tahun 2002 diperkirakan bahwa jumlah kopi yang dikonsumsi adalah sekitar 2,25 milyar gelas setiap hari di seluruh dunia (Ponte, 2002).  Jumlah ini tentu akan terus meningkat seiring dengan perkembangan kopi yang menjadi gaya hidup.  Pada tahun 2013,International Coffee Organization (ICO) memperkirakan bahwa kebutuhan bubuk kopi dunia sekitar 8,77 juta ton (ICO, 2019).

Berdasarkan data dari FAO, pada tahun 2013, Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar ke tiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Meskipun demikian, ekspor kopi dari Indonesia diperkirakan tidak lebih banyak daripada ekspor kopi Brazil, Vietnam dan Kolombia. Di dunia, Indonesia dikenal dengan dengan specialty coffee melalui berbagai varian kopi dan kopi luwak. Kopi arabika yang dikenal dari Indonesia diantaranya kopi lintong dan kopi toraja.  Dengan keunikan cita rasa dan aroma kopi asal Indonesia, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan perdagangan kopinya di dunia.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menganut sistem perekonomian terbuka kecil, artinya terdapat perdagangan internasional yaitu melakukan ekspor tetapi bukan sebagai penentu harga (price maker) sehingga tidak terlepas dari perdagangan luar negeri.  Negara yang melakukan perdagangan luar negeri dapat meningkatkan pendapatannya dengan mengekspor bahan baku mentah, barang setengah jadi, maupun barang yang sudah jadi atau langsung pakai. Didalam peningkatan ekspor baik jumlah maupun jenis barang atau jasa selalu diupayakan dengan berbagai strategi diantaranya adalah pengembangan ekspor. Tujuan dari program pengembangan ekspor ini adalah mendukung upaya peningkatan daya saing global produk Indonesia serta meningkatkan peranan ekspor dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Menuju era perdagangan bebas, persaingan global semakin ketat memaksa Indonesia harus kompetitif untuk mempertahankan ekonomi.

Berdasarkan data dari BPS (2018), diketahui bahwa nilai ekspor kopi Indonesia mencapai US$806.878.600  pada tahun 2018.  Nilai ini cukup besar karena mampu menempatkan Indonesia pada peringkat ke lima dunia dalam pengekspor kopi (International Coffee Organization, 2018).  Akan tetapi, berdasarkan Statistik Perkebunan Indonesia (2019) Indonesia diproyeksikan mampu untuk mendongkrak produksi kopi nasional hingga 900.000 ton pada tahun 2020.  Hal ini tentu akan memungkinkan Indonesia untuk menduduki peringkat satu dunia dalam hal produsen kopi.  Jumlah produksi yang demikian tinggi, tentu akan berimplikasi pada pendapatan negara.  Tentu saja, sesuai dengan hukum ekonomi.  Semakin besar kuantitas maka semakin besar juga pendapatan yang diperoleh.

Namun, nyatanya kenaikan pendapatan nasional tidak naik secara signifikan hanya dengan menaikkan jumlah produksi.  Terdapat hal-hal lain yang sangat berpengaruh dalam peningkatan nilai ekspor.  Kopi yang akan diekspor harus memiliki standar mutu tersendiri.  Sehingga, selain kuantitas, kualitas juga harus diutamakan.  Berikut adalah syarat mutu kopi ekspor yang dirilis dari Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) sesuai dengan standar mutu kopi SNI Nomor 01-2907-2008 dan International Coffee Organization (ICO) Nomor : 407 tentang Coffe Quality Improvement Program”:

  1. Pertama adalah syarat mutu umum, kadar air biji kopi maksimum sebesar 12,5%
  2. Tidak ada serangga hidup
  3. Tidak ada biji kopi yang busuk
  4. Tidak ada bau lain selain bau khas kopi
  5. Kadar kotoran maksimum sebesar 0,5%
  6. Ukuran biji yang seragam

Syarat mutu khusus kopi robusta pengolahan kering :

  1. Tidak lolos ayakan berdiameter 6,5 mm (sieve nomor 16) maksimum lolos 5%
  2. Lolos ayakan diameter 6,5 mm, tidak lolos ayakan diameter 3,5 mm (sieve nomor 9) maksimum lolos 5%

Syarat mutu khusus kopi robusta pengolahan basah :

  1. Tidak lolos ayakan berdiameter 7,5 mm (sieve nomor 19) maksimum lolos 5%
  2. Lolos ayakan diamter 7,5 mm, tidak lolos ayakan diameter 6,5 mm (sieve nomor 16) maksimum lolos 5%
  3. Lolos ayakan diamter 6,5 mm, tidak lolos ayakan diameter 5,5 mm (sieve nomor 14) maksimum lolos 5%

Syarat mutu khusus kopi arabika :

  1. Tidak lolos ayakan berdiameter 6,5 mm (sieve nomor 16) maksimum lolos 5%
  2. Lolos ayakan diamter 6,5 mm, tidak lolos ayakan diameter 6 mm (sieve nomor 15) maksimum lolos 5%
  3. Lolos ayakan diamter 6 mm, tidak lolos ayakan diameter 5 mm (sieve nomor 13) maksimum lolos 5%

Berdasarkan sistem nilai cacat, mutu yang dipersyaratkan adalah

Mutu 1, jumlah nilai cacat maksimum 11

Mutu 2, jumlah nilai cacat 12-25

Mutu 3, jumlah nilai cacat 26-44

Mutu 4a, jumlah nilai cacat 45-60

Mutu 4b, jumlah nilai cacat 61-80

Mutu 5, jumlah nilai cacat 81-150

Mutu 6, jumlah nilai cacat 151-225

 

Berdasarkan standar mutu di atas, kopi Indonesia umumnya diekspor dalam berbagai mutu.  Kopi arabika diekspor dalam bentuk mutu 1.  Berbeda dengan kopi robusta yang diekspor dalam berbagai standar mutu.  Mutu ekspor kopi arabika terdiri atas 10% mutu 1 dan 2, 60% diekspor dengan mutu 4, dan sekitar 30% diekspor dalam utu 5 dan 6 (AEKI, 2006).  Ditinjau dari standar mutu tersebut, kopi ekspor Indonesia masih sangat rendah kualitasnya.  Guna memperoleh nilai maksimal, mutu kopi harus berada ada mutu 1.  

Selain hal-hal tersebut di atas, Indonesia sebenarnya masih memiliki potensi ekspor kopi dalam bentuk lainnya.  Selama ini, Indonesia masih fokus pada ekspor komoditas kopi yang berbentuk biji kopi mentah.  Padahal, selain biji kopi mentah Indonesia bisa melakukan pemrosesan kopi lebih lanjut untuk memperoleh nilai tambah dari komoditas kopi.  Produk olahan tersebut di antaranya adalah produk setengah  jadi dan produk jadi siap konsumsi.  Untuk produk setengah jadi, biji kopi dapat diekspor dalam bentuk biji kopi sangrai dan essens kopi.  Sedangkan untuk produk jadi, biji kopi dapat diolah dan diekspor dalam bentuk kopi bubuk atau kopi instan yang siap dikonsumsi.  Seluruh rangkaian proses tersebut dapat meningkatkan nilai jual kopi sampai dengan 100% dari harga bji kopi mentah (Cybex Pertanian, 2019).  Peluang ini belum dinilai belum dimanfaatkan Indonesia dengan baik, mengingat sumberdaya yang ada sangat mendukung. Pengembangan produk kopi selain menambah nilai tambah juga mampu menyerap tenaga kerja.  Banyak hal positif yang diperoleh dari pengembangan produk komoditas kopi.

Namun, melakukan pengembangan komoditas menjadi produk jadi dan setengah jadi untuk diekspor tidaklah mudah.  Sama halnya dengan biji kopi, produk olahan siap ekspor lainnya juga harus memenuhi standar tertentu.  Hal ini harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar luar negeri.  Pemerintah Indonesia sendiri, telah menerbitkan berbagai standar mutu nasional melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN).  BSN telah menerbitkan berbagai aturan standar mutu terkait kopi dan produk turunannya.   Terdapat 6 Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai kopi di antaranya SNI 01-3542-2004 Kopi bubuk; SNI 2907:2008 Biji Kopi; SNI 7708:2011 Kopi gula krimer dalam kemasan; SNI 2983:2014 Kopi Instan; SNI 4314:2018 Minuman kopi dalam kemasan; serta SNI 8773:2019 Kopi Premiks.   Melalui pemenuhan standar-standar yang telah ditentukan, baik biji kopi maupun produk turunan diharapkan mampu memenuhi kualitas mutu untuk pasar Internasional.  Kualitas mutu ini akan sangat menentukan apakah, komoditas ekspor dapat menembus negara tujuan.

Hal ini bukan suatu hal yang sederhana, sebab dalam pemenuhan kualitas apalagi produk pertanian membutuhkan kolaborasi dari hulu ke hilir.  Guna mencapai kualitas tertentu, asal komoditas harus dapat ditinjau terlebih dahulu.  Perlakuan komoditas tidak serta merta dapat dilakukan hanya ketika komoditas itu ada, dalam hal ini biji kopi sebagai produk awal.  Dimulai dari pemilihan bibit kopi yang baik, bibit kopi bisa diperoleh dari benih atau entres (mata tunas).  Berikut adalah cara memilih bibit yang baik:  pertama adalah bibit berasal dari indukan dengan tingkat produktivitas tinggi, dapat berbuah dengan cepat, memiliki rasa dan aroma yang nikmat, ukuran buah dan biji yang besar dan seragam, serta berasal dari varietas dan klon yang tahan terhadap hama dan penyakit (Ferry dkk. 2015).   Bibit juga harus dalam keaadaan yang sehat dan prima saat ditanam.  Kemudian, perhatikan juga prasyarat tumbuh baik dari jenis tanah, ketinggian dataran dan iklim.  Hal ini sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan kopi.  

Tanaman kopi juga memerlukan pemeliharaan agar kualitas hidup tanaman terjaga.  Dimulai dari pengairan, khusus pada usia awal (berupa bibit) penyiraman merupakan hal yang krusial karena tanaman masih di masa awal adaptasi.  Lalu, pemupukan juga wajib dilakukan untuk menjaga asupa nutrisi bagi tanaman.  Perlu diperhatikan baik dosis dan waktu pemupukan.  Hal ini bertujuan agar penyerapan pupuk dapat optimal.  Bukan suatu rahasia bahwa biaya pemupukan cukup tinggi bagi petani, sehingga pemupukan harus dilakukan dengan tepat guna, tepat dosis dan tepat guna.  Apakah cukup sampai di pemupukan saja? Tentu tidak, tanaman kopi juga perlu dipangkas.  Malikin (2019) menyebutkan bahwa tujuan pemangkasan adalah untuk menjadikan tanaman kopi sehat, kuat dan mempunyai keseimbangan antara cabang vegetative dan generative sehingga tanaman lebih produktif. Manfaat dan fungsi pemangkasan umumnya adalah agar pohon tetap rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit.  Pemangkasan juga dapat pada cabang-cabang yang tidak produktif, cabang liar maupun yang sudah tua  (Malikin, cybex 2019).

Pengendalian gulma, hama dan penyakit juga merupakan bentuk pemeliharaan lain yang harus dilakukan.  Pengendaliannya dapat dilakukan baik secara mekanik, alami, maupun dengan bentuk pemberian obat-obatan kimia.  Semua dilakukan tergantung dengan derajat kegawatan dan kebutuhan.  Perlu diperhatikan lagi dalam pengendalian hama penyakit tanaman (HPT) adalah pengaruhnya terhadap kualitas panenan.  Perlu diingat, populasi HPT dalam jumlah tertentu akan sangat mempengaruhi pertanaman dan berakibat pada hasil panen yang tidak optimal, rusak atau bahkan gagal panen.  Oleh sebab itu, pengendalian harus terus menerus dilakukan sebagai upaya preventif penanganan HPT.

Rangkaian terakhir dalam budidaya tanaman kopi adalah pemanenan.  Ciri buah kopi yang sudah matang dapat dilihat dari warna kulitnya.  Buah kopi berada pada kondisi optimal pada saat mencapai masa matang penuh yang ditandai dengan buah berwarna merah cerah. Pada kondisi ini, buah dapat dikatakan telah matang sempurna dan memiliki aroma dan cita rasa yang khas. Buah kopi tentu tidak dapat matang serentak meskipun berasal dari satu tanaman yang sama.  Oleh karena itu, pemetikan dilakukan secara selektif.  Artinya, pemetikan dilakukan hanya pada buah yang telah berwarna merah penuh atau telah matang sempurna.  Adapun sisanya dibiarkan untuk pemetikan selanjutnya.  Proses pemetikan juga harus dilakukan dengan benar, hal ini bertujuan uuntuk menjaga produktivitas tanaman kopi.  Caranya sangat mudah, yakni dengan cara mencabut buah secara vertikal agar tidak merusak tangkai buah, sehingga buah dapat tumbuh kembali pada tangkai tersebut.  

Pada tahap ini, buah kopi disortir berdasarkan kualitasnya. Pisahkan buah kopi dari kotoran, buah yang cacat dan buah berpenyakit. Kemudian pilah buah yang merah dan mulus (buah superior) dari buah yang masih kuning atau hijau (buah inferior). Pemisahan ini nantinya akan menentukan grade kualitas mutu kopi.  Buah kopi yang telah disortasi harus segera diolah jangan disimpan terlalu lama. Penundaan pengolahan bisa memicu reaksi kimia yang akan menurunkan mutu kopi. (Koes Haryanto).  Perhatikan juga penyimpanan kopi, hindari menyimpan biji kopi di dalam karung plastik untuk menjaga kualitas kopi.

Selanjutnya, biji yang telah disortir bisa diproses secara kering (dry process), proses secara basah (fully washed) atau proses secara semi basah (semi washed process).  Proses yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan pasar.  Namun, untuk memperoleh kualitas optimal sangat disarankan untuk melakukan proses secara semi basah.  Kemudian, dilakukan penjemuran agar kopi benar-benar kering.  Tahapan akhir sebelum siap olah adalah sortasi ulang, untuk memastikan bahwa kopi benar-benar dalam kualitas prima.

Proses budidaya sampai ke perlakuan pasca panen ternyata memiliki rangkaian proses yang panjang.  Apabila dilakukan sesuai dengan kaidah usahatani yang baik dan benar, maka biji kopi kualitas premium akan sangat mudah dihasilkan.  Bahan mentah premium tentu memiliki harga jual yang tinggi, dan tentu saja berkualitas ekspor.  Lalu, pada proses lanjutan baik akan dibuat menjadi essens, kopi bubuk atau kopi instan tentu akan memerlukan sentuhan inovasi dan teknologi.  Sebelum diberi berbagai sentuhan, ada baiknyan seorang produsen atau eksportir memahami selera pasar terlebih dahulu.  Apalagi pasar internasional tentu memiliki selera yang mungkin berbeda-beda.  

Rangkaian panjang di atas tentu akan memberi banyak keuntungan bagi produsen.  Misalnya pada budidaya, ada petani pembibit, pembudidaya, belum lagi tenaga kerja harian baik yang memelihara sampai memanen dan lain halnya.  Tiap-tiap lini akan memberi nilai ekonomi bagi pelakunya.  Apalagi bila produk yang dihasilkan berkualitas tinggi, tentu nilai tukarnya juga tinggi. Maka semakin banyak keuntungan yang diperoleh.  

Mencapai hal tersebut tentu tidak mudah, tiap pelaku memerlukan edukasi   terus menerus.  Edukasi tersebut dapat berupa penyuluhan, bimbingan teknis, pelatihan dan berbagai hal lain yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dari tiap pelaku, baik pelaku on farm dan off farm.   Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan komitmen pasar.  Selain mendorong pelaku usahatani, industri dan eksportir.  Diperlukan juga dukungan dari pemerintah.  Banyak hal yang dapat pemerintah lakukan, misalnya dengan pemanfaatan sumber daya keuangan dari APBN dan upaya peningkatan pelayanan pemerintah.  Hal ini dapat berupa pembiayaan permodalan kepada pelaku ekspor dengan bunga pembiayaan yang rendah.  Sehingga, diharapkan dapat meningkatkan daya saing eksportir Indonesia.  Lalu, pemerintah dapat menerapkan kebijakan fiskal berupa peniadaan atau pengurangan pungutan perpajakan pada industri yang berorientasu ekspor.  Kebijakan tersebut akan berimplikasi ada meningkatnya nilai investasi, peningkatan ekspor dan terciptanya lapangan kerja.  Lalu, Pemerintah dapat melakukan diplomasi ekonomi. Tujuannya adalah mempertahankan pasar ekspor, memperoleh dukungan negara tujuan ekspor dan bahkan ekspansi pemasaran hasil ekspor Indonesia.  Kemudian yang tak kalah penting adalah logistik pengiriman.  Pengiriman barang ke luar negeri harus dapat difasilitasi dengan sangat baik.  Produk-produk pertanian khususnya memiliki karakteristik tersendiri, sehingga perlu pengiriman yang cepat.  Untuk itu, pemerintah perlu mendukung proses pengiriman barang ke luar negeri dengan meringkas birokrasi pengiriman agar tidak memakan waktu lama.

Berbagai upaya yang dilakukan perlu sinergitas dari seluruh pihak.  Apabila seluruh pihak terkait memiliki keseriusan dan konsisten bukan hanya potensi ekspor yang terdongkrak.  Kopi Indonesia bukan tidak mungkin dapat menguasai pasar dunia.  Hal ini tentu akan meningkatkan perekonomian nasional dan membantu bangsa untuk lebih sejahtera.

RUJUKAN

http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/84070/PEMANGKASAN-KOPI/

Panggabean, Edy. 2011. Buku Pintar Kopi. Jakarta Selatan: PT Agro Media Pustaka hlm 124-132

Hoffman, James. (2014). The World Atlas of Coffee : From Beans to BrewingCoffees Explored, Explained, and Enjoyed. Edisi Pertama, Cetakan Pertama. Firely Books, United Stated of America.

Mekuria, T., Neuhoff, D., Kopke, U. 2004. The Status of Coffee Production and The Potential For Organic Conversion in Ethiopia. Conference on International Agricultural Research for Development. Berlin.

International Coffe Organization.  2019.  ICO Coffe Development Reporty 2019 Overview.  http://www.ico.org/documents/cy2018-19/ed-2318e-overview-flagship-report.pdf

Ayelign, A.B. and K. Sabally.  2013.  Determination of Chlorogenic Acids (CGA) in Coffee Beans Using HPLC.  American Journal of Research Communication 1 (2).  P 79-91

Nawrot et al. 2003.  Effects of Caffeine on Human Health.  Food Additives and Contaminants 20 (1).  P 1-30.

Badan Pusat Statistik (BPS).  2018.  Statistik Indonesia.  BPS, Indonesia.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI).  2010.  Mutu Kopi.  http://www.aeki-aice.org/mutu_kopi_aeki.html .  Diakses pada 20 September 2020.

Ferry, Y. H. Supriadi dan M.S.D. Ibrahim.  2015.  Teknologi Budi Daya Tanaman Kopi, Aplikasi pada Perkebunan Rakyat.  Indonesian Agency For Agricultural Research And Development (IAARD) Press, Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan.  2019.  Statistik Perkebunan Indonesia, Kopi 2018-2020.  Kementerian Pertanian, Jakarta.