JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

VANILI, EMAS HIJAU INDONESIA

VANILI, EMAS HIJAU INDONESIA

Oleh

Tiara Aprilia Putri Hernanda

Sebagian besar masyarakat tentu tidak asing dengan Vanili atau Vanilla.  Berbagai olahan makanan  banyak menggunakan bahan ini.  Bukan hanya makanan, bahkan wewangian dan kosmetik sudah banyak menggunakannya.  Familiar namun ternyata kurang dikenal bentuk aslinya.  Tidak seperti tanaman lain, tanaman vanili memang tergolong langka. Vanilla planifolia Andrews merupakan  salah  satu tanaman dari keluarga Orchidaceae yang buahnya bernilai ekonomi tinggi (Rosman et al., 1989). Berdasarkan asalnya, vanili bukan tanaman asli Indonesia melainkan tanaman asli dari Meksiko.  Tanaman ini mulai diperkenalkan sejak tahun 1819, dibawa oleh Morchal dari koleksi kebun botani Antwepen (Belgia) sebanyak 2 pohon dan dijadikan sebagai koleksi tanaman anggrek di Kebun Raya Bogor.  Tanaman vanili terserbut tumbuh dan berbunga dengan baik tetapi tidak berbuah dikarenakan tanaman ini tidak bisa menyerbuk sendiri.  Pada tahun 1950, Taysman membantu penyerbukan vanili secara manual dan berhasil memproduksi buah.  Akhirnya, setelah melalui penyerbukan yang sedemikian rupa tanaman ini mampu berkembang.  Sejak tahun 1960, vanili mulai menyebar dan dibudidayakan di berbagai daerah mulai dari Banten (Jawa Barat), Jawa Tengah, dan Jawa Timur.  Sejak tahun 1995 sampai sekarang, vanili telah berkembang luas di Indonesia.  Perkembangan luas areal panili di Indonesia terus meningkat. Pada tahun 1983 yang hanya 3.786 ha, telah meningkat pesat hingga lima kali lebih luas menjadi 15.922 ha pada tahun 2003.daerah sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Perkembangan terus terjadi ditinjau dari segi luas, namun belum sejalan dengan peningkatan produktivitas tanaman dan nilai ekonomi.  Saat ini, produksi vanili Indonesia masih diorientasikan untuk kebutuhan ekspor.  Berdasarkan nilai ekspor, Indonesia menempati posisi peringkat ke 3 perdagangan ekspor vanili pada tahun 2019 mencapai 11 ton dengan nilai US$557.000 (BPS, 2020).  Nilai ini meningkat dibanding ekspor di tahun – tahun sebelumnya.  Indonesia sendiri masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai ekspornya melalui peningkatan produksi dan kualitas.  

Meski mengalami peningkatan nilai ekspor, akan tetapi nilai yang diperoleh masih dirasa kecil dan diharapkan dapat ditingkatkan melalui peningkatan mutu.   Saat ini, sebagian besar mutu vanili Indonesia dinilai masih cukup rendah.  Hal ini disebabkan oleh berbagai factor seperti waktu panen yang tidak tepat (petik muda) maupun proses pasca panen yang kurang tepat.  Adanya petik muda juga disebabkan oleh tingginya tingkat pencurian vanili di kebun, permintaan pasar dan kebutuhan ekonomi.   Dibanding vanili dari Negara lain, vanili Indonesia memiliki keunggulan dari segi kandungan, yakni memiliki kadar vanillin yang tinggi (2,75%) dan dikenal dengan nama Java vanilla beans.  Keunggulan ini merupakan peluang tersendiri bagi Indonesia untuk menaikkan nilai jual vanili di pasar internasional.

Upaya peningkatan produksi dan mutu tanaman vanili ini tidaklah mudah.  Vanili terkenal dengan budidayanya yang cukup sulit, sehingga harga jualnya tinggi.  Berikut beberapa hal kritis dalam budidaya vanili yang harus dilakukan pelaku usaha tani.  Keberhasilan dalam penanaman vanili tergantung dari teknik budidaya yang dilakukan (Wiratno dkk, 2018). Teknologi budidaya yang benar adalah penanaman di lokasi yang sesuai, penggunaan varietas unggul, teknik penanaman dan pemeliharaan hingga panen dan pasca panen yang benar.  Lahan untuk tanaman vanili harus disiapkan dan bebas dari gulma.  Tanahnya merupakan tanah gembur, ada drainase serta disediakan guludan.  Pastikan pH tanah berkisar antara 5,5 – 7.  Waktu penanaman wajib diperhatikan, sangat dianjurkan untuk menanam vanili pada saat musim hujan, saat tiang panjat berumur  3-6 bulan.

Hampir sama dengan tanaman lain, pemeliharaan vanili membutuhkan adanya penyulaman, penyiangan, pemangkasan dan pemupukan.  Hal yang berbeda adalah sebagai berikut; 1) Pengikatan dan pengaturan sulur; 2) Pemberian mulsa; 3) Pemangkasan pohon pelindung dan sulur vanili dan ; 4) Penyerbukan.   Tantangan budidaya vanili cukup banyak dan hal ini membuat banyak pelaku usaha tani gagal di percobaan awal.  Belum lagi pada saat penyerbukan secara manual, harus dilakukan di waktu yang tepat dan teliti.  Hal ini termasuk salah satu tantangan terbesar dalam budidaya vanili.  

Kendala utama dalam budidaya vanili di Indonesia adalah produktivitas yang  masih rendah dan serangan Fusarium oxysporum f. sp. vanillae pathogen penyebab busuk batang vanili (BBV) . Patogen tersebut merupakan jamur tular tanah (soil borne) yang dapat menyerang vanili pada semua tingkat umur. Serangan pathogen BBV dapat mencapai 30-80% dalam suatu areal pertanaman yang berdampak produksi vanili menurun dan mutu serta nilai jual vanili juga ikut turun.  Masalah yang dihadapi vanili tidak lepas dari kerangka usaha dalam usaha sistem agribisnis yang dimulai dari pengadaan sarana produksi, produksi/usaha tani, pengolahan hasil sampai pemasaran/tataniaga produk yang dihasilkan. Produktivitas vanili sangat dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian lingkungan tumbuh, varietas, teknik budidaya serta serangan hama dan penyakit. Sedangkan mutu vanili sendiri dipengaruhi banyak hal yang saling terkait seperti umur panen, panjang polong, dan proses pengolahan. Masalah yang dapat diidentifikasi dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah sempitnya keragaman genetik vanili, terbatasnya sumber benih karena varietas/ klon yang ada produksinya masih rendah dan peka terhadap penyakit BBV.  Sehingga, diperlukan pembinaan dan pengawalan intesif bagi petani vanili agar proses penanaman sampai pemanenan dapat sukses, khususnya bagi petani pemula dan petani vanili secara umum.  

Namun, masalah vanili tentu tidak bisa diselesaikan sesederhana pembinaan dan pengawalan.  Dibutuhkan strategi khusus agar vanili dari Indonesia selain menguasai pasar internasional karena jumlah produksinya juga berkuasa karena nilai tukarnya yang tinggi (quality over quantity).  Oleh sebab itu, berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan.

  1. Dukungan penelitian dalam upaya pengembangan vanili.  

Melalui penelitian, diharapkan dapat dihasilkan berbagai macam varietas unggul vanili yang tahan dan sesuai dengan topografi lahan Indonesia.  Banyak sekali kegagalan budidaya vanili yang disebabkan oleh ketidaksesuaian ekosistem tumbug vanili. Melalui pemuliaan tanaman vanili, diharapkan dapat tercipta varietas yang tinggi kualitas dan produksinya serta tahan dalam berbagai gempuran alam Indonesia.  

  1. Pemilihan daerah yang sesuai

Keberhasilan budidaya vanili tidak lain ditentukan juga oleh kesesuaian lokasi tanam.  Sembari menunggu hasil pemuliaan tanaman vanili yang masih terus dilakukan, penanaman sesuai dengan kondisi alam akan sangat membantu dalam upaya peningkatan produksi vanili Indonesia.

  1. Dukungan pemerintah

Pemerintah secara aktif menyediakan bantuan baik berupa subsidi bahan tanam, kemudahan akses pasar dan juga keringanan biaya ekspor mengingat hamper 90% vanili Indonesia berorientasi ekspor.  Bantuan lain dapat berupa pelatihan-pelatihan dan pendampingan dari segi budidaya hingga pemasaran yang dilakukan oleh penyuluh pertanian sampai dengan instansi-instansi terkait yang akan mendukung pemasaran vanili.

Banyak hal yang masih harus dilakukan untuk mengejar target penguasaan pasar vanili dunia bagi Indonesia.  Tidak menutup kemungkinan, vanili Indonesia benar-benar akan menguasa dunia.  Hal ini tentu tidak mudah, oleh sebab itu dukungan dari berbagai pidahk dari beragam sektor akan sangat dibutuhkan.  Semoga kelak dengan berbagai dorongan baik dari pelaku usaha tani, pemangku kebijakan dan juga konsumen dapat memberi dampak positif bagi pasar vanili tanah air.

 

Rujukan:

Badan Pusat Statistik.  2020.  Produksi Tanaman Perkebunan Menurut Provinsi dan Jenis Tanaman, Indonesia.  https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/839 diakses pada 25 Oktober 2021.

Rosman, Rosihan.  2005.  Status dan Strategi Pengembangan Vanili di Indonesia.   Perspektif 4(2) hal 43 – 54

Wiratno, Rosman, R., Ruhnayat, A., Syahid, S.F., Maslahah, N., Efiana dan Miftahudin.  2018.  Sirkuler, Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat.  Bogor: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.