JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

STRATEGI BERTAHAN SEKTOR PERTANIAN

STRATEGI BERTAHAN SEKTOR PERTANIAN

Oleh : Tiara Aprilia Putri Hernanda

 

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang bervariasi pada berbagai sektor perekonomian.  Seperti sektor pariwisata yang terdampak sangat buruk, disusul sektor lain seperti sektor manufaktur dan industri.  BPS (2020) melaporkan perekonomian Bali dan Nusa Tenggara misalnya selama kuartal pertama tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar hampir 7%, terparah di seluruh Indonesia.  Namun, dari hasil penelitian Universitas Padjajaran (2021) terdapat satu sektor yang hampir tidak terpengaruh dengan adanya pandemi Covid-19 yakni sektor pertanian.  Hal ini terjadi karena dampak dari pembatasan sosial akan relatif minimal pada sektor pertanian.  

Namun, perlu diperhatikan juga adanya penurunan permintaan dan gangguan pada rantai pasok komoditas pertanian.  Penurunan pendapatan yang dihadapi sebagian besar masyarakat Indonesia memaksa masyarakat menurunkan daya beli.  Adapun risiko lain tetap ada namun tidak terlalu berpengaruh pada sektor pertanian.  

Kekuatan sektor pertanian ini tidak dapat terlepas dari posisinya sebagai sektor penopang ketahanan pangan (food security) dengan tingkat urgensi tinggi sebagai pemenuh kebutuhan pokok tiap orang.  Apapun keadaannya, pemenuhan masyarakat tetap menjadi prioritas teratas untuk menjaga kestabilan bernegara.  Di era pandemi, kebutuhan pangan bukan hanya sebagai syarat bertahan hidup.  Namun juga, sebagai salah satu bentuk pertahanan dari serangan pandemi Covid-19 melalui pemenuhan asupan gizi berimbang.  

Pembatasan sosial yang kerap dilakukan oleh pemerintah guna menekan ledakan kasus Covid-19 juga perlu mendapat perhatian.  Pembatasan sosial bisa jadi mematikan beberapa sumber ekonomi.  Tidak berjalannya roda ekonomi baik langsung dan tidak langsung juga akan menyebabkan krisis di sektor pertanian.  Hal ini mungkin akan menghadirkan krisis baru berupa krisis pangan di tengah masyarakat.  Baik karena terbatasnya ketersediaan pangan atau keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.  Tentu, kemungkinan ini bisa saja terjadi dan harus dihindari.  Jangan sampaii krisis Covid-19 berubah menjadi krisis pangan.  Kita belum berbicara perihal keadaan situasional yang sulit diprediksi dari alam. Tahun ini pun diramalkan akan ada kekeringan yang lebih parah dibandingkan biasanya. Semua ini berdampak pada relevansi dan urgensi sektor pertanian untuk mendapat perhatian lebih dalam penanganan krisis.  Oleh sebab itu, Kementerian Pertanian Republik Indonesia sudah menyusun beberapa strategi sektor pertanian dalam menghadapi pandemi di antaranya,

Pertama, tetap bekerja dengan semangat dalam mewujudkan kemandirian pangan.  Tidak ada kata berhenti dalam sektor pertanian.  Pemenuhan pangan harus tetap berjalan apapun yang terjadi.  Berbagai bantuan baik berupa sarana produksi dan juga bantuan berupa inovasi dan teknologi.  

Ke dua, meningkatkan produksi nasional berbasis pertanian rakyat dan keberpihakan pada petani kecil.  Salah satu terobosan yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah dengan upaya cetak sawah baru.  Selain itu, terdapat bantuan benih bagi petani.  Sehingga, petani dapat memperoleh benih berkualitas dan terjangkau.  Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja, sektor pertanian diketahui menjadi salah satu sektor penyangga yang menampung banyak tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya.  Hal ini terkait dengan sifat dari produk-produk pertanian yang umumnya memiliki elastisitas rendah (E < 1).  Artinya, perubahan harga tidak begitu berpengaruh terhadap perubahan permintaan.  Sehingga, dapat disimpulkan bahwa jumlah permintaan akan tetap stagnan.  Hal ini terkait dengan sifat komoditas pertanian yang mudah rusak (perishable) dan tidak memungkinkan untuk disimpan dalam jumlah besar dan waktu yang lama.  Oleh sebab itu, sektor pertanian cenderung tidak terpengaruh karena kebutuhan yang tetap dan tidak berubah.

Ke tiga, optimalisasi lahan dan pekarangan dengan tanaman pangan untuk kebutuhan pangan. Pada dasarnya, pemanfaatan lahan memiliki konsep yang sejalan dengan pertanian subsisten.  Adapun, komoditas yang ditanam bisa disesuaikan dengan keperluan pangan rumah tangga. Sesuai dengan tujuan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai langkah pertama dalam ketahanan pangan rumah tangga.

Ke empat, memetakan daerah rawan pangan dan alokasi kebutuhan pangan secara tepat. Meskipun Indonesia merupakan negara dengan corak agraris, namun tingkat kerawanan pangan juga cukup tinggi.  Banyak penyebab kerawanan pangan masih terjadi di Indonesia, baik karena factor ekonomi, factor tata niaga atau factor alam.  Hal-hal ini perlu diantisipasi dengan melakukan pemetaan.  Sehingga, wilayah rawan pangan dan kebutuhan pangan dapat terukur dengan baik.  Untuk keterjangkauan pangan terdapat salah satu inovasi Kementan yakni ATM beras.  Melalui ATM beras ini warga dengan ekonomi lemah bisa mengambil beras untuk konsumsi rumah tangga tiap dibutuhka.

Ke lima, menciptakan efisiensi rantai pemasaran produk pertanian dan keberpihakan pasar pada petani. Penyederhanaan rantai tata niaga komoditas pertanian akan sangat menguntungkan bagi petani dan konsumen.  Salah satunya adalah dengan menjaga stabilitas harga sehingga petani memperoleh pendapatan lebih besar dan konsumen memperoleh harga lebih ringan.  Hal ini dimungkinkan dengan memotong margin dari rantai tata niaga yang Panjang.  Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan adanya operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah.  Selain itu, dengan memanfaatkan teknologi yang ada, pemasaran on line sangat tepat dilakukan karena pasar langsung terjadi.  Permintaan dan penawaran yang langsung bertemu akan memangkan banyak sekali biaya.

Ke enam, menjaga petani dalam keadaan sehat, sejahtera dan semangat agar tepat terus berproduksi. Melalui berbagai stimulus dari pemerintah, petani diharapkan dapat lebih bersemangat dalam menjalani usahataninya.  Selain itu, pemerintah juga diharapkan untuk turut memperhatikan Kesehatan petani, salah satunya adalah dengan menggenjot upaya vaksin pada petani.  Tingkat vaksinasi yang rendah di pedesaan perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah agar layanan Kesehatan in dapat diperoleh merata.

Krisis Covid -19 mau tidak mau memang harus dihadapi.  Bagi sektor pertanian, krisis ini dapat membuka kesempatan untuk merevitalisasi sektor pertanian.  Kondisi yang membatasi perdagangan internasional yang menjadi pasar kita akan menguji sistem produksi pertanian Indonesia dan membantu pengidentifikasian kelemahan yang dapat diperbaiki jangka panjang.  Seperti yang disebutkan di atas, selain sebagai bagian penting dari sistem penyediaan pangan, di saat krisis ternyata sektor pertanian bisa menjadi jaring pengaman sosial (sosial safety net) alamiah. Sektor pertanian, di situasi normal pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia, apalagi ketika ada krisis ekonomi.  Sehingga, sektor ini perlu untuk diperhartikan lebih jauh lagi.