JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

PORANG, TERLUPAKAN NAMUN MENJANJIKAN

PORANG, TERLUPAKAN NAMUN MENJANJIKAN

Oleh:  Tiara Aprilia Putri Hernanda

 

Dari sekian banyak tanaman umbi-umbian, terdapat salah satu tanaman yang sebenarnya sudah lama dikenal namun kurang populer.  Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain.) atau iles-iles termasuk famili Araceae dan merupakan salah satu jenis umbi-umbian Indonesia.  Tanaman porang meskipun belum terlalu dikenal, namun ternyata sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan diekspor sebagai bahan baku industri.  Sayangnya, tanaman tersebut belum dibudidayakan secara luas.  Selama ini petani hanya mengambil tanaman porang yang tumbuh secara liar.  Umumnya, tanaman ini tumbuh liar di hutan, di tegalan, di bawah rumpun bambu, di sepanjang bantaran sungai dan lereng gunung.  Lokasi ditemukannya tanaman ini tidak terlepas dari sifat tanaman porang yang toleran terhadap naungan.  Oleh sebab itu, tanaman ini sangat mungkin untuk dibudidayakan di lahan hutan industri di bawah tegakan pohon jati, sonokeling, mahoni ataupun sengon.

Porang termasuk dalam Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledoneae, bangsa Arales, famili Araceae, marga Amorphophallus. Di seluruh dunia marga Amorphophallus secara umum dikenal dengan nama bunga bangkai karena baunya yang busuk.  Genus Amorphophallus berasal dan banyak tersebar di daerah tropis mulai dari Afrika hingga kepulauan Pasifik, juga ke wilayah tropika di China dan Jepang.  Berbeda dengan konjac yang banyak dibudidayakan di China dan Jepang.  A. muelleri pada awalnya banyak tumbuh liar di kepulauan Andaman, India kemudian menyebar ke arah timur hingga Birma, ke Thailand bagian Utara dan Selatan hingga Indonesia diantaranya di pulau Sumatera, Jawa, Flores, Timor (Jansen et al. 1991 cit. Flach and Rumawas 1996).  Amorphophallus variabilis hanya diketahui tumbuh liar di Indonesia terutama di Jawa, Madura dan kepulauan Kangean.

Tanaman porang mudah ditemui karena ciri-cirinya yang khas.  Batang tanaman porang tumbuh tegak, lunak, halus berwarna hijau atau hitam dengan belang-belang putih tumbuh di atas ubi yang berada di dalam tanah. Batang tersebut merupakan batang tunggal dan semu, berdiameter 5-50 mm tergantung umur tanaman.  Kemudian, batang tersebut pecah menjadi tiga batang sekunder dan selanjutnya akan pecah lagi menjadi tangkai daun.  Tangkai berukuran 40-180 cm x 1-5 cm, halus, berwarna hijau hingga hijau kecoklatan dengan sejumlah belang putih kehijauan (hijau pucat).  Pada saat memasuki musim kemarau, batang porang mulai layu dan rebah ke tanah sebagai gejala awal dormansi, kemudian pada saat musim hujan akan tumbuh kembali.  Tinggi tanaman porang dapat mencapai 1,5 m, tergantung tingkat kesuburan lahan dan iklimnya.  Daun porang merupakan daun majemuk dan terbagi menjadi beberapa helaian daun, berwarna hijau muda sampai hijau tua dengan warna tepi daun bervariasi  mulai ungu muda (pada daun muda), hijau (pada daun umur sedang), dan kuning (pada daun tua).  Umbi porang merupakan umbi tunggal karena setiap satu pohon porang hanya menghasilkan satu umbi.  Diameter umbi porang bisa mencapai 28 cm dengan berat 3 kg, permukaan luar umbi berwarna coklat tua dan bagian dalam berwarna kuning-kuning kecoklatan.  Bunga tanaman porang akan tumbuh pada saat musim hujan dari umbi yang tidak mengalami tumbuh daun.  Tanaman porang hanya mempunyai akar primer yang tumbuh dari bagian pangkal batang dan sebagian tumbuh menyelimuti umbi berupa akar serabut.  Pada umumnya sebelum bibit tumbuh daun, didahului dengan pertumbuhan akar yang cepat dalam waktu 7-14 hari kemudian tumbuh tunas baru.  

Seperti umumnya tanaman umbi, umbi porang merupakan tanaman yang mengandung karbohidrat.  Selain sebagai tanaman penghasil karbohidrat, umbi porang juga mengandung lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan.   Karbohidrat yang merupakan komponen penting pada umbi porang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi.  Kandungan glukomannan yang relatif tinggi merupakan ciri spesifik dari umbi porang.  Porang kuning (A. oncophyllus) dilaporkan mengandung glukomannan sekitar 55%, sementara porang putih (A. variabilis) sedikit di bawahnya, yakni 44% (Koswara 2013).  Lalu apa itu Glukomannan?  Mannan merupakan polisakarida yang ukuran granulanya 10-20 kali lebih besar daripada pati dan dapat dibedakan menjadi galaktomannan dan glukomannan berdasarkan bentuk ikatannya.  Galaktomannan memiliki ikatan seperti selulosa, namun memiliki BM lebih kecil.  Menurut Wang dan Johnson (2003) dan Mulyono (2010) dalam Saleh (2015), beberapa sifat/karakater penting glukomannan, antara lain: 

  1. Larut dalam air dan membentuk massa yang kental dengan kemampuan mengembang yang cukup besar (138 hingga 200%).
  2. Mampu membentuk gel; dengan penambahan air kapur, larutan kental glukomannan dapat membentuk gel yang khas dan tidak mudah rusak,bersifat stabil dan irrevesible.
  3. Sifat merekat yang kuat dalam air, namun dengan penambahan asam asetat sifat tersebut akan hilang.
  4. Dapat diendapkan dengan etanol dan kristal yang terbentuk dapat dilarutkan kembali dengan asam klorida encer.
  5. air maupun asam encer.–
  6. Sifat mencair seperti agar.
  7. Stabil pada kondisi asam dan tidak menggumpal sampai pH di bawah3,3.
  8. Toleran terhadap konsentrasi garam tinggi - Mampu membentuk lapisan tipis (film) yang bersifat tembus pandang(jernih). Dengan penambahan NaOH atau gliserin, dapat dihasilkan film yang kedap air.

Berdasarkan sifat-sifat tersebut, glukomannan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri pangan, kimia, dan farmasi, antara lain untuk produk makanan, seperti konnyaku, shirataki (berbentuk mie); sebagai bahan campuran/tambahan pada berbagai produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, dan lain-lain; bahan pengental pada produk sirup dan sari buah; bahan pengisi dan pengikat tablet; bahan pelapis (coating dan edible film); bahan perekat (lem, cat tembok); pelapis kedap air; penguat tenunan dalam industri tekstil; media pertumbuhan mikrobia; dan bahan pembuatan kertas yang tipis, lemas, dan tahan air.  Kadar glukomannan dalam ubi sangat ditentukan umur tanaman pada saat panen.  Apabila tanaman dipanen pada satu periode tumbuh, kadar glukomannan dalam ubi berkisar antara 35-39%. Kadar tersebut terus meningkat sejalan dengan umur panen yaitu 46-48%, dan 47-55% masing-masing pada dua dan tiga periode tumbuh (Sumarwoto, 2005 dalam Saleh, 2015).  Namun, dimulai saat tanaman mulai berbunga hingga biji mulai masak, kadar glukomannan menurun hingga 32-35%. Oleh karena itu panen ubi sebaiknya dilakukan sebelum tanaman mulai berbunga. 

Pengolahan porang terutama dilakukan untuk mendapatkan komponen glukomannannya. Produk porang yang biasa diolah dan dipasarkan dari umbi segar adalah keripik, tepung porang (konjac flour) dan tepung glukomannan (konjac glucomannan).  Tepung porang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, di antaranya pangan fungsional, pakan ternak, pengikat air, bahan pengental, penggumpal atau pembentuk gel dan makanan diet rendah lemak dan kalori. Sebagai bahan pangan, tepung porang dapat diolah menjadi konnyaku (mirip tahu) dan shirataki (berbentuk mie) yang cukup terkenal di Jepang, China, dan Taiwan dan relatif mahal harganya. 

Dahulu, pada zaman penjajahan Jepang, masyarakat dipaksa mengumpulkan umbi untuk keperluan bahan pangan dan industri mereka.  Namun, selanjutnya budidaya tanaman porang kurang berkembang, demikian pula pengolahannya menjadi tepung glukomannan.  Kemudian, pada tahun 1975an, usahatani tanaman porang bergairah kembali dengan adanya kenyataan bahwa tanaman tersebut bernilai ekonomis tinggi dan sangat menguntungkan karena glukomannannya dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional yang berkhasiat bagi kesehatan.  

Selain ubi besar yang dihasilkan dari tiga kali pertumbuhan tanaman untuk diambil glukomannannya, ubi yang kecil yang dihasilkan dari 1-2 kali pertumbuhan, ubi katak (bulbil), dan biji tanaman porang juga mempunyai nilai ekonomis.  Menurut Sumarwoto (2012b), harga ubi segar yang telah layak dipanen untuk diambil glukomannannya berkisar antara Rp3.000-3.500/kg.  Namun, apabila ubi tersebut diproses dan dikeringkan menjadi bentuk keripik, harganya menjadi Rp17.500-22.000/kg, sementara apabila telah diproses lebih lanjut menjadi tepung glukomannan, harganya meningkat menjadi sekitar Rp125.000-150.000/kg.  Harga ubi kecil, yang dihasilkan dari tanaman berumur 1-2 tahun dan digunakan sebagai bibit berkisar Rp9.000-11.000/ kg.  Harga ubi katak (bulbil) yang digunakan sebagai bibit adalah Rp25.000-30.000/kg. Biji lepas kulit yang diperoleh dari buah tanaman yang telah mengalami pertumbuhan maksimal (berumur empat tahun) harganya berkisar Rp40.000-50.000/kg. Berdasarkan hal tersebut, maka menurut Sumarwoto (2012b) dalam budidaya porang, disarankan sebaiknya dilakukan pemisahan penggunaan lahan atau dilakukan tanam seri pada kawasan lahan yang tersedia dengan tujuan penanaman yang berbeda(pembibitan dan produksi). Berdasarkan potensi hasil ubi porang yang dihasilkan di hutan Perum Perhutani dan harga yang mencapai Rp 2.900/kg ubi atau Rp 19.000/kg chip, Wijanarko (2009) menyimpulkan bahwa pengembangan budidaya porang di Jawa Timur sangat menjanjikan. Selain secara financial usahatani porang menguntungkan ke para petani, budidaya porang di bawah tegakan hutan industri (pohon jati, sono) Perum Perhutani melalui program PHBM juga memberikan keuntungan tidak langsung berupa terjaminnya keamanan pohon jati dari ancaman penjarahan.

Ditinjau dari hal-hal tersebut di atas maka, budidaya porang sangat layak diusahakan.  Selain, budidayanya yang relatif mudah, usahatani porang juga sangat menguntungkan.  Apalagi saat ini tingkat kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi porang sudah cukup tinggi, sehingga peluang pasarnya juga sangat besar. Oleh sebab itu, guna menjaga kesinambungan pasar, kampanye terstruktur dan berkelanjutan perlu dilakukan.  Selain membantu meningkatkan pasar ekspor, konsumsi porang juga mendukung diversifikasi pangan sehingga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beberapa jenis bahan pangan.

 

Daftar Pustaka :

Saleh, N., St. A. Rahayuningsih, B.S., Radjit, E. Ginting, D. Harnowo, dan I.M.J. Mejaya.  2015.  Tanaman Porang, Pengenalan, Budidaya dan Pemanfaatannya.  Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.