JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

Performa 3 Klon Unggul Kopi Robusta Tiga Tahun Pasca Rejuvinasi

Performa 3 Klon Unggul Kopi Robusta Tiga Tahun Pasca Rejuvinasi

Oleh: Erdiansyah, S.P.

Beberapa klon kopi robusta unggul yang telah dilepas Kementerian Pertanian memiliki daya adaptasi baik pada lahan kering masam dataran rendah.  Tiga klon unggul tersebut diantaranya BP 534, BP 939, dan SA 203.  Ketiga klon kopi robusta ini telah ditanam di lahan Kebun Taman Sains Pertanian Natar sejak Tahun 2002.  Taman Sains Pertanian Natar berada pada ketinggian 100 mdpl, dengan jenis tanah PMK dan tipe iklim kering.  Pada kondisi lahan demikian tidak semua klon kopi robusta dapat beradaptasi dan menghasilkan produksi yang maksimal.

Kopi robusta yang ditanam di Taman Sains Pertanian Natar kini telah berusia 19 tahun.  Saat ini rata-rata tanaman kopi tersebut masih memiliki performa batang kokoh dan perakaran sehat.  Namun dikarenakan belum dilakukan pemeliharaan intensif terutama pemangkasan, produktivitasnya menjadi rendah.  Untuk itu pada tahun 2018 lalu telah dilakukan rejuvinasi guna meningkatkan kembali produktivitasnya.  

Rejuvinasi merupakan salah satu teknik rehabilitasi tanaman kopi dengan melakukan peremajaan cabang ortotrop sebagai cabang reproduksi.  Teknik ini dimulai dengan menebang cabang ortotrop tua pada ketinggian 30-40 cm di atas permukaan tanah.  Selanjutnya setelah 3 bulan pasca penebangan dilakukan seleksi terhadap cabang ortotrop muda atau tunas air yang tumbuh.  Dua tunas air terpilih yang sama besarnya dipelihara dan akan mulai berbuah di tahun ke dua pasca rejuvinasi.  Pada tahun ketiga produktivitasnya akan mencapai optimal dan masih akan berlangsung baik hingga tahun keempat.   

Berdasarkan hasil taksasi produktivitas terhadap ketiga klon kopi robusta tiga tahun pasca rejuvinasi tersebut hasilnya jauh melampaui rerata produktivitas kopi robusta di Provinsi Lampung yang saat ini hanya berkisar 0,75 Ton/Ha.  Rata-rata produktivitas kopi robusta klon BP939, BP 534, dan SA 203 tiga tahun pasca rejuvinasi mencapai 1,5 Kg/batang atau setara dengan 2,4 Ton/Ha.  Capaian ini tentu diikuti dengan pemeliharaan yang intensif meliputi pemupukan, pemangkasan, dan penyiangan.  Pemangkasan pada budidaya kopi robusta perlu dilakukan secara rutin dan terjadwal, terutama pemangkasan tunas air dan tunas cacing.  Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali yakni pada fase primordia bunga dan fase pembentukan buah.  Penyiangan dilakukan sesuai kondisi gulma yang ada.  Penyiangan yang terlambat juga akan berdampak pada terganggunya pertumbuhan tanaman.  

Berdasarkan hasil kajian ini, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Teknologi rejuvinasi dapat meningkatkan kembali produktivitas tanaman kopi robusta; 2) Pada lahan dataran rendah bertipe iklim kering klon kopi robusta BP 939, BP 534, dan SA 203 dapat menjadi alternatif penyusun komposisi klon guna meningkatkan produktivitas kebun.