JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

PERAN PENYULUH DI ERA PANDEMI COVID – 19

PERAN PENYULUH DI ERA PANDEMI COVID – 19

Oleh: Tiara Aprilia Putri Hernanda

Pandemi Covid-19 belum berakhir dan masih melanda bukan hanya Indonesia namun juga dunia.  Di tengah pandemi ini, beberapa sektor ekonomi mengalami penurunan yang drastis.  Kesulitan adaptasi dengan era pandemi membuat hal ini menjadi suatu yang normal terjadi.  Berdasarkan BPS (2021) diketahui dari enam besar penyumbang ekonomi tertinggi hanya sektor pertanian yang masih mencatat pertumbuhan positif.  Sementara sektor lainnya, yaitu industri, perdagangan, konstruksi, transportasi, akomodasi, makanan dan minuman mengalami pertumbuhan negatif.  Berdasarkan lapangan usaha di tahun 2020, sektor pertanian juga masih mengalami pertumbuhan sebesar 1,75%.  Terdapat anomali positif pada pertumbuhan sektor pertanian khususnya di Indonesia.  Hal ini ditinjau dari sumbangan sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mengalami kenaikan sebesar 2,59% pada tahun 2020.  Pertumbuhan sektor pertanian ini dipicu oleh tumbuhnya beberapa subsektor (komoditas) pertanian. Salah satunya adalah tanaman pangan yang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu 10,47%. Pertumbuhan ini disebabkan oleh peningkatan luas panen dan produksi pada komoditas tertentu seperti: padi, jagung, dan ubi kayu.  Kondisi cuaca juga cukup mendukung budidaya komoditas pangan tersebut. Urutan ke dua diduduki komoditas hortikultura yang mampu tumbuh 7,85%. Selain itu, BPS (2021) juga mencatat adanya peningkatan permintaan buah-buahan dan sayuran selama pandemi covid-19.

Salah satu penopang utama pertumbuhan positif PDB sektor pertanian ialah subsektor perkebunan dengan kontribusi pada triwulan III sebesar 163,49 triliun rupiah atau 28,59% (Ditjenbun, 2020). Hal ini disebabkan oleh peningkatan angka konsumsi komoditas perkebunan seperti kakao, karet, cengkeh dan tembakau serta permintaan luar negeri untuk komoditas olahan kelapa sawit (CPO). Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) (2020) tercatat ekspor perkebunan pada periode Januari-Oktober 2020 sebesar 359,5 Triliun Rupiah atau naik 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 322,1 triliun. Dengan nilai sebesar tersebut, sub sektor perkebunan menjadi penyumbang terbesar ekspor di sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 90,92% Ekspor komoditas perkebunan yang meningkat pada Januari-Oktober didominasi oleh komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi.

Tidak terpengaruhnya sektor pertanian ini merupakan pertanda kestabilan sektor.  Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, sektor ini juga berpeluang besar untuk masuk ke pasar internasional. Mengikuti adanya peningkatan ekspor, sesuai data BPS (2020) bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pertanian meningkat tajam dari 99,45 pada Juni 2020 menjadi 102,86 pada November 2020. NTP sub sektor tanaman perkebunan bahkan telah mencapai 110 pada bulan November 2020. Kenaikan terutama terjadi pada kelompok kelapa sawit dan karet di mana terdapat kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional.  Guna menyiasati hal ini Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan ekspor pertanian hingga tiga kali lipat melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks).  Khusus untuk subsektor perkebunan, Kementan akan fokus pada komoditas strategis perkebunan seperti sawit, kopi, kakao, cengkeh, jambu mete, lada, pala, dan vanili, serta komoditas andalan ekspor yaitu kelapa sawit, karet, kelapa, teh, dan tembakau”, ujar Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian dalam sambutannya pada acara Hari Perkebunan Ke-63 Tahun 2020 (10/12/2020).  Pengembangan komoditas-komoditas perkebunan strategis tersebut akan dikoordinasikan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida).  Selain itu, penerapan praktik pertanian yang baik juga penting untuk dilakukan.  Menembus pasar ekspor merupakan hal yang cukup sulit.  Terdapat standar kualitas tertentu yang harus dipenuhi tiap komoditas ekspor.  Hal ini tentu membutuhkan usaha tersendiri agar petani dapat melakukan produksi komoditas sesuai standar.  Oleh sebab itu, perlu adanya tenaga lapang yang siap untuk mendiseminasikan teknologi dan memfasilitasi petani dalam mempraktikkannya.

Peran penyuluh sangat penting dalam membimbing petani agar bisa menghasikan produksi dengan baik. Bagaimana menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), menggunakan pupuk berimbang, serta mekanisasi pertanian dan pengendalian hama dan penyakit secara ramah lingkungan.  Tidak berhenti sampai di situ, penyuluh juga wajib mengintroduksikan praktik Good Handling Process (GHP).  Penanganan pasca panen yang sesuai standar bagi komoditas pertanian akan sangat berpengaruh pada kualitas produk.  Lantas apa yang dilakukan oleh penyuluh.  Penyuluh berperan sebagai fasilitator usahatani yang bertugas memfasilitasi petani yaitu perannya sebagai edukator, mediator, motivator dan evaluator lebih diupayakan melalui program penyuluhan, agar petani meningkatkan minatnya di bidang pertanian.  Sehingga, untuk menerapkan GAP dan GHP butuh usaha terus menerus agar benar-benar diterapkan oleh petani.

Terkait dengan pandemi Covid-19, Kementerian Pertanian sendiri telah mengeluarkan surat edaran Sekjen. Kementerian Pertanian No1056/SE/RC 10/03/2020 tentang strategi dalam pencegahan dan perlindungan Covid-19. Pertama, penyediaan bahan pangan pokok utamanya beras dan jagug bagi 267 juta masyarakat Indonesia.  Ke dua, percepatan ekspor komoditas strategis dalam mendukung keberlanjutan ekonomi.  Ke tiga, sosialisasi kepada petani dan petugas lapangan (PPL dan POPT) untuk pencegahan berkembangnya virus corona sebagaimana standar WHO dan pemerintah. Ke empat pembuatan dan pengembangan pasar tani di setiap provinsi, optimasi pangan lokal, koordinasi infrastruktur logistik, dan e-marketing dan ke lima, program kegiatan padat karya agar sasaran pembangunan pertanian dicapai dan masyarakat langsung menerima dana tunai.  Lagi-lagi penyuluh memiliki peranan penting guna mencegah penyebaran Covid-19 di kalangan petani sekaligus tetap mendorong petani untuk aktif berusahatani.  Hal ini penting dilakukan, meski di tengah suasana pandemi, kegiatan pertanian tidak boleh berhenti karena komoditas pertanian merupakan hajat hidup masyarakat.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedi Nursyamsi saat jumpa pers di kantor pusat Kementan, mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk sektor pertanian. Adanya wabah ini mengharuskan pertanian untuk makin produktif karena masyarakat sangat membutuhkan pangan yang sehat.  Mengutip pernyataan Prof. Dedi Nursyamsi bahwa pertanian tidak berhenti, tanam terus berjalan, pangan harus selalu tersedia, perpendek rantai pasok dan tingkatkan nilai tambah melalui kegiatan panen dan pasca panen yang memadai, manfaatkan E-marketing.  Apabila perdagangan antar wilayah terbatas dorong bahan pangan lokal, dan terapkan GAP, GMP, dan GHP (Good Hygiene Practice).  Maka, kaki kaki pertanian salah satunya penyuluh juga harus terus aktif bergerak.  Di tengah atau tanpa pandemi, pertanian merupakan harga mati yang harus tetap hidup demi kehidupan bernegara.  Penyuluh sebagai seorang tentara wajib bergerak untuk mendorong keberlangsungan itu, sehingga 267 juta rakyat Indonesia tetap terisi perut dan terpenuhi kebutuhannya.