JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

PEMBANGUNAN KEBUN ENTRES TANAMAN KARET

PENDAHULUAN

Permasalahn pertanaman karet rakyat di Provinsi Lampung saat ini antara lain adalah penggunaan bibit unggul bermutu bersertifikat yang masih rendah, sehingga perlu dilakukan upaya pembibitan karet unggu.Penggunaan bibit bermutu tinggi merupakan suatu keharusan bagi petani perkebunan karet rakyat untuk meningkatkan produktiviatas. Hasil bibit yang optimal membutuhkan pengelolaan bibit yang baik pula di lapangan dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pada perkebunan karet. Sampai saat ini penyediaan bibit karet bermutu bersertifikat dalam jumlah banyak masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan bibit petani, sehingga diperlukan penangkar bibit yang mampu menghasilkan bibit karet yang bermutu tinggi sesuai dengan standar teknis yang berlaku.

Klon-klon yang ditanaman pada kebun entres harus jelas asal usulnya dan merupakan klon anjuran. Klon anjuran untuk entres antara lain: PB 260, GT 1, BPM 1, BPM 24, RRIC 100. Dalam pembangunan kebun entres, jumlah batang setiap klon minimal 100 batang agar dapat memenuhi kebutuhan untuk 1 ha. Bahan tanaman yang digunakan untuk entres dapat berupa stum tidur, stum mini atau bibit dalam polibag dengan jarak tanam 1 x 1 m. Dalam penanaman kebun entres, apabila menggunakan lebih dari satu. Jenis klon, maka areal kebun diatur ke dalam petak – petak. Hal ini untuk menghindari tercampur diantara klon. Pemeliharaan kebun entres meliputi penyiangan, pemupukan, pewiwilan, pengendalian hama dan penyakit serta pemurnian. Penyiangan bertujuan untuk mengendalikan gulma dan dilakukan menjelang pemupukan.

Penyakit yang umum dijumpai di kebun entres adalah penyakit gugur daun Oidium dan Colletotrichum. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan menyemprotkan fungisida seperti Bayleton 250 EC (0,25%) dan Dithane M 45 (0.25%). Pewiwilan dilakukan dengan membuang tunas – tunas palsu agar diperoleh tunas yang baik dan batang entres yang lurus. Pemurnian dilakukan pada saat tanaman berumur 8 - 12 bulan setelah tanam dengan berpedoman pada ciri dan diskripsi klon pada tanaman muda dan dilakukan oleh orang yang ahli. Tanaman yang tidak murni diganti dengan klon yang sesuai (Balai Penelitian Sembawa, 2006).

Pemanenan entres pertama dilakukan pada ketinggian 30 cm dari pertautan okulasi dengan cara dipotong serong. Selanjutnya setiap tunas yang tumbuh dipelihara dua buah setiap batang. Pemanenan berikutnya dilakukan 10 cm dari posisi percabangan entres. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan menggunakan gunting pangkas, pisau tajam atau gergaji entres.

Setelah dipanen entres perlu dijaga kesegarannya dengan memberi lilin cair pada kedua ujungnya dan diberi tanda klon serta dibungkus dengan gedebog pisang. Untuk entres yang dikirim ketempat lain, enters hijau masih dapat bertahan 1 – 2 hari sedangkan entres coklat 3 – 5 hari.

OKULASI

Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Teknik Okulasi Teknik okulasi pada tanaman karet ada tiga macam yaitu : ·

  • Okulasi dini. ·
  • Okulasi hijau. ·
  • Okulasi coklat.

 

Okulasi dilakukan dengan beberapa tahap berikut ini, yaitu : penyiapan batang bawah, pembuatan jendela okulasi, penyiapan perisai mata okulasi, penempelan perisai mata okulasi, pembalutan dan pembukaan/pemerikasaan hasil okulasi. Batang bawah yang siap diokulasi memenuhi persyaratan berikut :

  • Lilit batang tanaman 5 – 7 cm yang diukur pada ketinggian 5 cm.
  • Tunas ujung dalam keadaaan tidur atau daun tua.
  • Pembuatan jendela okulasi dilakukan dengan cara berikut ini:
  • Batang bawah dibersihkan dari kotoran dan diiris vertikal.
  • Irisan sejajar dibuat dua buah sebanyak 25 batang dengan ukuran 5 – 10 cm dengan panjang 5 – 7 cm dan lebar 1/3 lilit batang.
  • Potongan melintang dibuat diatas irisansan vertikal dan dibawah irisan vertikal.
  • Penempelan mata tunas.

Pembuatan perisai mata okulasi dibuat dalam rangka pengambilan mata dari entres klon unggul. Perisai ini akan diokulasikan pada batang bawah yang sduah dibuat jendela okulasi. Tahap pembuatan perisai mata okulasi adlah sebagai berikut :

  • Pilih mata oklasi yang berada di bekas ketiak daun (mata yang terbaik).
  • Ukuran perisai mata okulasi dibuat dengan ukuran lebar 1 cm dan panjang 5 – 7 cm.
  • Posisi mata okulasi pada kayu entres menghadap keatas untuk bukaan atas, dan menghadap kebawah untuk bukaan bawah.
  • Penyayatan perisai mata okulasi dilakukan dengan mengikutsertakan sedikit bagian kayu.
  • Pelepasan kulit dari kayu dilakukan secara hati – hati dan bagian dalam jangan sampai kotor dan terpegang.
  • Perisa mata okulasi yang baik ditandai dengan adanya bintik putih yang menonjol pada kulit bagian dalam.

Tahap selanjutnya dilakukan penempelan mata okulasi pada batang bawah dengan membuka jendela okulasi dan menempelkan mata okulasi. Selanjutnya dilakukan pembalutan dengan pita plastik okulasi agar telindung dari air dan kotoran. Untuk bukaan dari atas pembalutan dilakukan dari atas dan begitu juga sebaliknya untuk bukaan dari bawah. Pembukaan okulasi dilakukan setelah 2 – 3 minggu untuk melihat keberhasilannya. Balutan dibuka dengan cara mengiris plastik okulasi dari bawah ke atas. Selanjutnya jendela okulasi dibuka dengan cara memotong lidah jendela okukasi. Keberhasilan okulasi diketahui dengan cara membuat cukilan pada perisai mata okulasi diluar matanya. Adanya cukilan berwarna hijau berarti okulasi dinyatakan berhasil. Selanjutnya okulasi yang sudah berhasil ini diberi tanda dengan mengikatkan bekas potongan plastik okulasi pada bagian batang.

Ditulis Ulang: Tri Kusnanto

Sumber:  BPTP Jambi, Teknologi Pembibitan Karet Klon Unggul Mendukung Program M-P3MI Di Provinsi Jambi.