JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

PELUANG DAN TANTANGAN JERUK LOKAL INDONESIA

PELUANG DAN TANTANGAN  JERUK LOKAL INDONESIA

Oleh :

Tiara Aprilia Putri Hernanda, M.Si.

 

Masyarakat Indonesia tentu mengenal dengan baik buah jeruk.   Jeruk (Citrus spp.) merupakan salah satu genus dari famili Rutaceae yang mempunyai nilai ekonomi penting (Penjor et al., 2013). Jeruk menjadi salah satu jenis buah yang produksinya diperkirakan telah mencapai  47,5 juta ton pada tahun 2020 (USDA, 2020).  Ditinjau dari jumlah produksi yang demikian besar, tidak salah apabila jeruk menjadi salah satu komoditas hortikultura yang populer.  Kepopuleran jeruk tidak terlepas dari fungsi zat gizi yang terkandung di dalamnya (Liu, Heying and Tanumihardjo, 2012).  Selain itu, kalori yang ada pada jeruk dapat menjadi sumber energi, nutrisi dan suplemen kesehatan (Lv et al., 2015).  

Pada awalnya, jeruk merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia dan menyebar hampir ke seluruh belahan dunia.  Salah satu wilayah  persebarannya adalah wilayah Indonesia, di mana terdapat beberapa varietas jeruk lokal yang tumbuh dan dibudidayakan di Indonesia.  Adapun beberapa jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah sebagai berikut; jeruk keprok (Citrus reticulate/nobilis L.), jeruk siam (C. microcarpa L. dan C. Sinesis L.) serta jeruk besar (C. maxima Herr.).

Saat ini Indonesia menempati urutan pertama dalam produksi jeruk di wilayah ASEAN dan menempati urutan ke tiga di wilayah Asia-Pasifik (Statista, 2020).  Adapun luas panen jeruk siam menurut Kementerian Pertanian (2018) adalah seluas 43.109 hektar, sedangkan panen jeruk besar adalah seluas 3.813 hektar.  Pada jumlah produksi, jeruk siam memiliki jumlah produksi sebesar 2.176.596,9 ton, sedangkan jeruk besar sebesar 103.193,9 ton (Kementerian Pertanian, 2018).  Hal ini merupakan suatu peluang yang sangat besar bagi Indonesia untuk memimpin pasar jeruk di tingkat regional ASEAN dan Asia-Pasifik.  Tingkat produksi yang cukup tinggi tersebut juga diiringi dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Hal ini ditinjau dari jumlah konsumsi jeruk dalam negeri yang diproyeksikan akan mencapai 2.619.617 ton pada tahun 2019 (Kementerian Pertanian, 2016).  Angka proyeksi ini mungkin jauh lebih besar pada realita mengingat kebutuhan pangan masyarakat dan juga tingkat kesadaran masyarakat yang semakin tinggi terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi berimbang.

Apabila kita perhatikan dari dua data di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat selisih antara jumlah jeruk yang diproduksi dan yang dikonsumsi sendiri, yang mana jumlah konsumsi jeruk lebih besar dari produksinya.  Hal ini tentu saja merupakan peluang berkembangnya agribisnis jeruk tanah air.  Namun, apabila tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, peluang ini tentu saja menjadi celah bagi jeruk dari negara lain untuk diimpor ke Indonesia.

Berbanding terbalik dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan produksi terbesar di ASEAN, ternyata Indonesia juga merupakan negara pengimpor jeruk ke dua terbesar di ASEAN.  Hal ini harusnya tidak terjadi apabila potensi yang ada dapat dioptimalkan. Pertanyaannya adalah selain kurang optimalnya produksi jeruk dalam negeri, adakah hal lain yang mempengaruhi angka impor jeruk Indonesia?

Terdapat beberapa hal yang menjadi kendala sekaligus tantangan eksistensi jeruk lokal Indonesia, di antaranya adalah produksi yang belum optimal, rendahnya kualitas produk jeruk lokal, preferensi masyarakat dan sosialisasi jeruk lokal yang masih rendah.  Terdapat beberapa faktor penyebab menurunnya produksi jeruk di antaranya, serangan penyakit, konversi lahan penggunaan benih-benih berlabel bebas penyakit, sampai pada kurangnya pengetahuan usaha tani jeruk petani.  Kurangnya pengetahuan ini menyebabkan sebagian besar petani jeruk Indonesia masih berpaku pada cara berkebun jeruk tradisional yang telah dilakukan secara turun temurun.  Akibatnya, produktivitas lahan cenderung menurun dan pada akhirnya jumlah produksi berfluktuasi sehingga tidak bisa memberi kepastian pada pasar.  

Faktor-faktor di atas selain berakibat pada produktivitas yang menurun juga berakibat pada mutu buah yang belum memenuhi permintaan pasar.  Saat ini konsumen utama dari jeruk nasional adalah konsumen dari kelas ekonomi menengah ke atas, yang telah memiliki preferensi tertentu akan buah jeruk yang dikonsumsinya.  Konsumen pada kelas mayoritas ini menginginkan buah jeruk dengan ukuran yang relatif seragam, warnanya kuning-jingga merata, kulit buah mulus dan rasa yang konsisten.  Sangat disayangkan, secara umum jeruk lokal belum mampu memiliki kualitas seperti itu, sehingga masyarakat banyak mencari jeruk impor karena sesuai dengan deskripsi preferensi konsumen mayoritas.  Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pertanian (2019) total impor jeruk Indonesia mencapai 377.670,736 ton.  Adapun negara importir terbesar jeruk Indonesia adalah negara Cina dengan total nilai impor sebesar 137.841,851 US$ pada tahun 2018 (Kementerian Pertanian, 2018).  Selain China, Indonesia juga mengimpor jeruk dari Pakistan, Korea Selatan, Turki, Amerika Serikat, Australia, Spanyol dan Argentina dengan jenis jeruk yang diimpor adalah jenis keprok atau mandarin (Kementerian Pertanian, 2018).  Karakter jeruk keprok impor ini dinilai sesuai dengan preferensi masyarakat.  Sehingga, konsumen cenderung akan langsung memilih jeruk impor dibandingkan jeruk lokal.

Lantas, apakah ada yang salah dengan preferensi masyarakat? Jikalau demikian, maka sebesar apapun produksi digenjot maka kebutuhan akan impor akan tetap ada apabila masyarakat tetap memilih jeruk impor.  Padahal, jeruk lokal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh jeruk impor; 1) lebih segar; 2) lebih murah: 3) risiko residu kimia lebih rendah, 4) mudah diakses dan banyak kelebihan lainnya.  Permasalahannya, masyarakat secara umum belum mengenal potensi jeruk lokal dengan baik.  Kurangnya sosialisasi mengenai konsumsi jeruk lokal merupakan salah satu penyebabnya.  Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi secara masiv untuk menggeser preferensi masyarakat.  

Secara singkat, peluang utama jeruk lokal saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jeruk dalam negeri dan juga pasar internasional.  Namun, peluang ini menghadapi tantangan yang cukup sulit.  Pertama adalah produksi jeruk lokal yang masih kurang dan persaingan dengan jeruk impor.  Menghadapi hal – hal tersebut butuh upaya terintegrasi agar jeruk lokal benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Pertama adalah meningkatkan produksi jeruk, baik melalui usaha intensifikasi maupun ekstensifikasi.  Saat ini, diketahui bahwa sebagian besar jeruk lokal (73%) berasal dari luar Pulau Jawa dengan peningkatan produksi jeruk sebesar 9,94% pada tahun 2018 (Kementerian Pertanian, 2018).  Persentase 9,94% ini sebenarnya masih bisa ditingkatkan dengan mengoptimalkan fungsi sistem diseminasi dan alih teknologi inovatif hasil penelitian kepada pihak petani atau pengguna lainnya (Balitjestro, 2014).  Saat ini, Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah – buahan Subtropis (Balitjestro) telah mengembangkan berbagai teknologi untuk mempercepat penambahan jumlah produksi nasional, contohnya teknologi BUJANGSETA dan SITARA.  

Penerapan teknologi BUJANGSETA (Pembuahan Berjenjang Sepanjang Tahun) terbukti dapat menghasilkan buah premium dengan performa seragam serta cita rasa sesuai pasar.  Lalu ada teknologi SITARA (Sistem Jarak Tanam Rapat) yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu buah dengan cara mengefisiensikan penggunaan lahan dan menekan biaya usaha tani.  Penerapan kedua teknologi ini akan memungkinkan petani menanam jeruk dengan populasi 4 hingga 6 kali lipat lebih banyak dibandingkan tanam konvensional.  Sehingga, biaya usaha tani dapat ditekan dan pendapatan petani akan meningkat (Balitjestro, 2019).  Dua teknologi di atas hanya sedikit dari banyaknya teknologi usaha tani jeruk yang dapat dilakukan petani.  Selain menggunakan teknologi terkini, pelaku usaha tani jeruk dalam pengembangan usaha tani jeruk baik secara ekstensifikasi maupun intensifikasi harus dibarengi dengan penerapan budidaya sesuai kaidah GAP (Good Agriculture Practices) dan pengendalian OPT secara terpadu dan ramah lingkungan.  Usaha-usaha tersebut terbukti mampu mendongkrak peningkatan produksi dan mutu jeruk Indonesia, yang mana akan meningkatkan probabilitas diterimanya produk oleh pasar.  

Namun, perlu diperhatikan juga bagaimana jangkauan diseminasi inovasi dan teknologi tersebut untuk sampai ke petani sebagai pengguna.  Maka, penyuluhan dan pelatihan secara rutin dan merata harus dilakukan.  Sebab, tanpa didiseminasikan secara optimal, teknologi hanya menjadi koleksi peneliti.  Sehingga, dibutuhkan sinergi antara penciptaan teknologi unggul baru dan diseminasi teknologi.  Pemerintah harus pro aktif mendorong terserapnya teknologi dengan melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha tani jeruk.

Apabila usaha peningkatan produksi jeruk berhasil, maka usaha selanjutnya adalah memastikan ketersediaan pasar.  Pasar sebagai muara dari produk usaha tani perlu dipastikan keberadaannya.  Namun, pasar tidak bisa tercipta tanpa pertemuan antara permintaan dan penawaran.  Produk yang ditawarkan telah dipersiapkan dengan usaha peningkatan produksi jeruk.  Selanjutnya, bagaimana menciptakan permintaan pasar.  Diketahui sebelumnya bahwa preferensi masyarakat Indonesia lebih cenderung ke jeruk impor.  Sehingga, meskipun produk jeruk lokal membanjiri pasar apabila belum sesuai dengan preferensi masyarakat maka dikhawatirkan jeruk lokal tidak akan terserap pasar.  Maka, hal yang kemudian terjadi adalah anjloknya harga jual jeruk lokal, yang kemudian berimbas pada kerugian petani karena biaya usaha tani lebih besar dari penerimaan.  Akhirnya, petani enggan untuk melanjutkan usaha tani jeruknya dan produksi kembali merosot.

Maka dalam upaya menciptakan permintaan jeruk lokal, hal yang harus dilakukan adalah dengan menyesuaikan produk jeruk lokal dengan preferensi konsumen dan juga menggeser preferensi konsumen terhadap jeruk lokal.  Pada usaha penyesuaian produk jeruk lokal dirasa dapat dilakukan dengan berbagai teknologi dan inovasi yang ada serta praktik GAP.  Diketahui bahwa melalui usaha-usaha tersebut jeruk yang dihasilkan memiliki penampilan seragam baik warna, ukuran dan bentuk, serta konsistensi rasa yang menjadi incaran utama konsumen.  Pekerjaan selanjutnya adalah menggeser preferensi konsumen dengan cara mengubah persepsi konsumen mengenai jeruk lokal.  Mengubah persepsi konsumen dapat dilakukan dengan introduksi jeruk lokal melalui berbagai macam sosialisasi.  Saat ini Kementerian Pertanian telah memiliki kampanye mengenai jeruk lokal bernama “Program Keproknisasi yang Berkelanjutan”.  Inti dari program ini tidak lain untuk menumbuhkan sinergitas seluruh bangsa baik tingkat pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mencintai produk jeruk lokal.  Akan tetapi, seluruh usaha ini akan menjadi sia-sia tanpa adanya konsistensi dari setiap pihak.  Masyarakat perlu terpapar berbagai informasi baik mengenai jeruk lokal, kampanye yang dilakukan secara masiv tanpa adanya kontinuitas akan berakhir sia-sia.  Kunci dalam mengubah sikap dan persepsi adalah ketekunan, maka kampanye ini akan menjadi suatu program yang memakan waktu yang lama.

Pada akhirnya, guna menjawab tantangan dan peluang jeruk lokal Indonesia.  Kita membutuhkan kerja sama seluruh pihak dan sinergi dari berbagai program yang diluncurkan.  Jeruk lokal akan unggul apabila produksinya surplus, kualitas prima dan diterima pasar.  Sehingga, yang dibutuhkan saat ini bukan hanya menggarap usaha tani jeruk.  Namun, sudah dalam konteks agribisnis jeruk lokal yang mana jauh lebih kompleks dan banyak melibatkan berbagai pihak.  Harapan kita bersama dengan berbagai usaha yang telah dilakukan, semoga dalam beberapa tahun ke depan jeruk lokal benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri baik dalam jumlah produksi maupun jumlah yang dikonsumsi, serta selalu menjadi opsi nomor satu di mata masyarakat Indonesia dan kelak dunia.