JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

BPTP Lampung Laksanakan Sosialisasi BSIP di Lingkup Internal

Bandar Lampung, 15 November 2022.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung melaksanakan Sosialisasi dan Koordinasi Perencanaan Standar Instrumen Pertanian Spesifik Lokasi yang dilaksanakan di  Ruang Rapat Lantai 4  BPTP Lampung. Acara dibuka oleh Kepala BPTP Lampung (Dr. Drs. Jekvy Hendra  M.Si) dan  menyampaikan arahan kepada seluruh pegawai BPTP Lampung yang hadir. Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada menjadi  faktor penting pendukung kinerja Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP).

Pemateri pertama dalam acara tersebut adalah  Kasubbag TU (Arfi Irawati, M.Si), mensosialisasikan hasil  Pelatihan Penguatan dan Peningkatan Kapasitas  SDM BSIP dan materi kedua disampaikan oleh Sub  Koordinator Program dan  Evaluasi  (Reli Hevrizen, S.Pt) yang berjudul Perencanaan Standar Instrumen Pertanian Spesifik Lokasi. Bertindak sebagai moderator adalah Sub Koordinator Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian (Edwin Herdiansyah, SP).

Dasar hukum  regulasi dalam proses standarisasi dan penilaian kesesuaian yaitu  antara lain: 1) Undang-undang No.20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian;  2) Peraturan Pemerintah No.34 Tahun 2018 tentang Sistem Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian; 3) Perpres No.4 Tahun 2018 tentang Badan Standardisasi Nasional;  4) Peraturan BSN No.20 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja BSN.  Ditambah dengan berbagai peraturan teknis pada pengembangan standar dan penilaian kesesuaian (Skema dan Akreditasi).

Dalam rangkaian upaya penguatan SDM BSIP yang telah dilaksanakan baik di Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan  Teknologi Pertanian (BBP2TP) dan  pelatihan di Lingkup BSIP,  secara garis besar  memiliki tujuan agar setiap satuan kerja mampu mengidentifikasi, menganalisis, merumuskan standar instrumen pertanian.

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh bagi pengguna antara lain:  1. Peningkatan pengetahuan  terhadap pentingnya penerapan standar instrumen pertanian, 2. Optimalisasi usulan penyempurnaan SNI yang telah diterapkan oleh pelaku usaha dan stakeholder sebagai umpan balik bagi penyusunan RSNI, 3. Terakomodirnya penyusunan RSNI berdasarkan kebutuhan pengguna/spesifik lokasi dan 4. Terbangunnya jejaring calon lembaga penerap standar instrumen pertanian spesifik lokasi. Dan dampaknya adalah: 1. Pemasyarakatan penerapan standar instrumen pertanian spesifik lokasi di level pelaku usaha, 2. Terbinanya calon lembaga penerap dalam melakukan kegiatan usaha pertanian yang sesuai dengan standar instrumen pertanian, 3. Meningkatnya daya saing produk - produk pertanian terstandar yang akan berkontribusi terhadap jaminan pasar dan pertumbuhan nilai ekspor serta pendapatan pelaku usaha di bidang pertanian.


Sumber: Tim Medsos BPTP Lampung