JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sosial Media

BPTP Lampung Terapkan Paket Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Masam

Untuk mendukung program swasembada kedelai diperlukan strategi peningkatan produksi kedelai secara nasional dan ditempuh melalui program perluasan areal tanam/panen serta peningkatan produktivitas. Luas panen kedelai yang kini baru mencapai sekitar 600 ribu ha dengan produksi 1,57 t/ha, harus dapat diperluas hingga mencapai 1,5 juta ha dengan target produktivitas 1,70 t/ha. Perluasan areal panen kedelai di Lampung dengan memanfaatkan lahan kering masam yang tersedia dan sesuai untuk tanaman pangan termasuk kedelai seluas 912.609 ha. Oleh karena itu kontribusi Provinsi Lampung cukup besar untuk dapat meningkatkan produksi kedelai di lahan kering masam.

Tetapi, kendala teknis yang dihadapi dalam pengembangan kedelai di lahan kering masam adalah pH tanah rendah (<5,0).  Kadar pH masam ini berkaitan dengan kadar Al tinggi, fiksasi P tinggi, kandungan basa dapat ditukar dan KTK rendah, kandungan besi dan mangan mencapai batas meracuni, serta miskin elemen biotik dan terbatasnya air. Kondisi tersebut kurang sesuai untuk pengembangan kedelai, sehingga untuk tumbuh optimal dan memberikan hasil maksimal diperlukan input amelioran berupa kapur dan bahan organik serta pupuk anorganik NPK relatif tinggi. Kendala teknis lainnya adalah produktivitas kedelai di Lampung saat ini tergolong masih rendah, yakni 1, 16 t/ha. Sementara itu produktivitas kedelai di tingkat nasional sudah mencapai 1,57 t/ha. 

Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi pada penggunaan varietas unggul kedelai yang adaptif dan produksi tinggi di lahan kering masam perlu dikaji.  Hal tersebut sebagai salah satu upaya untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai swasembada kedelai nasional. Oleh karena itu dilakukan Temu Lapang dalam rangka mendiseminasikan Kajian Paket Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Masam Lampung. Sebagai pelaksana adalah Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi bekerjasama dengan BPTP Lampung dan Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Timur pada musim tanam 2018. 

Temu lapang pada Kegiatan Kajian Paket Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Masam Lampung dilaksanakan pada 30 Oktober 2018 di Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur. Acara ini dibuka oleh kepala BPTP Lampung Dr. Ir. A. Arivin Rivaie, M.Sc.  Dalam sambutannya beliau mendorong petani untuk menerapkan teknologi budidaya kedelai sesuai dengan kajian ini. Petani bisa menanam kedelai di musim tanam ketiga. Acara ini dihadiri oleh Peneliti Balitkabi Malang (Agustina Asri Rahmianna, PhD dan tim) serta Tim Peneliti/Penyuluh BPTP Lampung, Peneliti Balittanah Bogor, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Timur, 50 Orang Petani dan PPL sekecamatan Metro Kibang. Peserta temu lapang berkesempatan melihat langsung paket kajian kedelai ini dan melakukan diskusi dengan peneliti/penyuluh Balitbangtan.

Koordinator Pelaksana Kegiatan ini Endriani, SP, M.Si menyampaikan bahwa Kajian Paket Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Masam Lampung ini bertujuan untuk : 1) Memperoleh Varietas Unggul Baru (VUB) kedelai yang adaptif dan berproduksi tinggi di lahan kering masam Lampung, dan 2) menghasilkan paket teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi di lahan kering masam Lampung.

 

Teknologi yang diperkenalkan kepada petani dan penyuluh pada temu lapang ada beberapa yaitu:

  1. Paket Teknologi Cara Petani/ exsisting (Paket A)

Menggunakan varietas lokal dengan penyiapan lahan secara Tanpa Olah Tanah (TOT). Penanaman dilakukan secara tugal dengan jarak tanam 40x20 cm, dan masing-masing lubang 2 biji kedelai. Lahan tidak dilakukan pemberian kapur dan pupuk yang digunakan adalah Urea 50 kg/ha dan SP-36 50 kg/ha dengan cara pemberian disebar. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (HPT) menggunakan pestisida kimia sebanyak 5- 6 kali.

  1. Paket Teknologi Spesifik Lokasi (Paket B)

Menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu Demas-1 dengan penyiapan lahan secara Olah Tanah Sempurna (OTS) 1-2 kali bajak. Penanaman dilakukan secara tugal dengan jarak tanam 40x15 cm, dan masing-masing lubang berisi 2 biji kedelai. Pengapuran dilakukan menggunakan Dolomit 1,5 to/ha. Pupuk yang digunakan adalah NPK 150 kg/ha, Biochar dari tongkol jagung 2 ton/ha serta 2 ton kompos/ha sebagai penutup lubang tanam. Pengendalian HPT menggunakan pestisida nabati asap cair yang terbuat dari limbah pertanian (sekam padi dan tempurung kelapa).

  1. Paket Teknologi Rekomendasi

Menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu Dermas-1. Pengolahan tanah dilakukan 1-2 kali (tergantung kondisi tanah), serta membuat parit/ saluran drainase setiap 4 meter dengan lebar 30 cm sedalam 20-25 cm sepanjang petak tanah. Penanaman dilakukan secara tugal dengan jarak tanam 40x15 cm atau 30x20 cm, dan masing-masing lubang berisi 2 biji kedelai. Pengapuran 1/2  kali AL-dd. Pupuk yang digunakan adalah Urea 75 kg, SP-36 100 kg, dan KCl 100 kg/ha dengan cara ditugal, serta 2 ton kompos/ha sebagai penutup lubang tanam. Pengendalian HPT menggunakan prinsip PHT.

 

Keragaan tanaman kedelai dengan penerapan komponen teknologi pada kajian  paket B dan Paket C menunjukan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kajian paket A, hal ini berdasarkan pengamatan komponen pertumbuhan (persentase daya tumbuh, jumlah bintil akar, jumlah daun, jumlah cabang , jumlah polong pertanaman maupun tingkat serangan hama dan penyakit). BPTP Lampung juga melakukan analisis respon petani terhadap paket teknologi kedelai.  Berdasarkan hasil baseline survey pada awal kegiatan kesulitan mencari petani kooperator yang berminat menanam kedelai karena menurut petani budidaya tanaman kedelai lebih rumit dibandingkan jagung, terutama masalah hama penyakit yang banyak menyerang tanaman kedelai dan faktor pemasaran yang sulit serta harga jual kedelai yang rendah.

Selain itu mayoritas petani di Desa Margototo merupakan petani yang terbiasa menanam jagung dan cabe dengan sistem tumpangsari. Respon petani pada awal kegiatan sangat rendah, namun seiring waktu dengan pendampingan yang intensif, petani mulai akif dan tertarik untuk menanam kedelai karena melihat kondisi pertumbuhan tanaman yang cukup baik, walaupun dalam kondisi curah hujan yang kurang. Berdasarkan hasil pengamatan petani sendiri di lapangan, petani melihat bahwa pertumbuhan tanaman varietas lokal kurang baik daya tumbuhnya karena tanpa perbaikan kualitas lahan (tanpa pemberian kapur dan pupuk organik) sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Petani lebih tertarik untuk menanam varietas Demas-1 karena pertumbuhannya lebih baik (jumlah polong dan jumlah cabang lebih banyak) dan adaptif pada lahan kering masam.

 

Sumber : Tim Humas BPTP Lampung, Peneliti BPTP Lampung Endriani, SP, M.Si

 

Foto Dokumentasi :

 

 

 

 

 

 

 

 

wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink sat hacklink sat deface mirror hacklink wso shell